Saturday, July 02, 2011

BERBUAT JASA - THAM BUN

Pelimpahan Jasa Pada Saat Perayaan

Diposting oleh artikel pada Wenny, tags:
URL pendek:
http://dhct.ws/a664
Pelimpahan Jasa Pada Saat Perayaan
Wenny
 
Pelimpahan jasa bertujuan untuk melimpahkan jasa perbuatan baik kita kepada sanak saudara kita, orang tua atau kepada mahkluk yang telah meninggal, baik yang kita kenal dikehidupan ini maupun di kehidupan kita sebelumnya. Pelimpahan Jasa tidak berarti jasa kebaikan yang kita perbuat itu diberikan kepada mahkluk yang telah meninggal melainkan kita limpahkan kepada meraka karena Jasa yang kita limpahkan tidak akan berkurang atau habis. Ibarat membagi api dari lilin yang menyala ke lilin yang masih belum menyala. Api tidak akan habis dan cahaya yang ditimbulkan tidak akan makin redup, tetapi makin bersinar karena makin banyak lilin yang menyala. Dan kita tidak perlu kuatir pelimpahan jasa kita tidak ada yang menerima, karena kita telah mengalami tumimbal lahir yang tak terhitung banyaknya sehingga pasti ada sanak saudara yang sedang berharap dapat menerima jasa tersebut. Walaupun mungkin kita sendiri sudah tidak ingat lagi siapa mereka adanya. Demikian juga dengan para makhluk yang lebih tinggi dari kita (Baca : Para dewa) apabila hadir pada saat pelimpahan jasa juga dapat turut mengabarkan sehingga pelimpahan jasa yang telah diperbuat dapat diterima oleh lebih banyak makhluk.

Manusia sebagai mahkluk sosial tentu banyak yang biasa kita lakukan dalam bersosialisasi seperti mengadakan acara pesta perkawinan, pesta ulang tahun , pesta makan sebelum hari raya imlek atau malam tahun baru ataupun pesta lainnya dimana banyak sanak famili berkumpul untuk merayakan.

Tetapi saat kita bersenang – senang, bergembira bersama, bersantap makan bersama, sering kali kita lupa pada sanak saudara yang telah meninggal atau di alam penderitaan. Bukankah mereka juga hadir pada saat kita mengadakan perayaan tersebut??

Walau tidak tampak bukan berarti mereka tidak ada. Mereka datang dengan harapan kita bisa membagi jasa kebajikan yang telah kita lakukan kepada mereka karena hanya dengan cara melakukan pelimpahan jasa kita dapat menolong atau bahkan membebaskan mereka dari alam penderitaan. Bagi mereka yang terlahir di alam penderitaan adalah sulit untuk melakukan karma baik atau hampir tidak mungkin. Sehingga sulit sekali untuk membebaskan diri dari alam penderitaan.

Jadi alangkah baiknya kita bisa membacakan parita pelimpahan jasa ditujukan kepada mereka. walaupun tidak hafal paritanya bisa kita lakukan dengan berkehendak sambil membaca bait berikut :
Idam no natinam hotu, sukhita hontu natayo (3x)
semoga timbunan jasa ini melimpah kepada sanak saudara saya/kami.
Semoga sanak saudara berbahagia.(3x)

Lebih baik lagi jika dapat membaca ettavatta secara lengkap.

Melimpahkan jasa sebaiknya menjadi kebiasaan dan kita tidak seharusnya merasa aneh, justru kita bisa menolong mahkluk menderita untuk mendapatkan jasa dari kebajikan kita. Dan pelimpahan jasa ini tidak memakan waktu yang lama. Jadi tidak akan rugi untuk dilakukan malah akan manambah jasa kebajikan.

Seperti pada waktu jaman sang Buddha belum Parinibbana, Raja Bimbisara setelah melakukan dana yang besar bagi sang Buddha dan pada malam harinya Raja Bimbisara mendengar suara jeritan yang sangat menakutkan sehingga ia merasa ketakutan dan tidak dapat tidur, keesokan harinya ia menanyakan hal tersebut kepada sang Buddha dan dijelaskan bahwa jeritan tersebut tak lain adalah sanak saudara raja yang telah meninggal menunggu raja untuk melimpahkan jasa kebajikan tersebut kepada mereka tetapi raja tidak melakukannya. Sehingga raja melakukan dana yang besar lagi kepada sang Buddha dan setelah itu melakukan pelimpahan jasa, setelah itu banyak sanak saudara raja yang terbebas dari alam menderita. Mungkin pada jaman sekarang yang sudah modern kita tidak lagi mendengar jeritan tersebut, tapi apakah kita harus menunggu mendengar suara jeritan tersebut, atau harus menunggu sampai sanak saudara kita menampakkan dirinya baru melakukan pelimpahan jasa?

Mengapa kita perlu melakukan pelimpahan jasa pada saat pesta perayaan?
  1. Banyak manusia yang berkumpul. Setiap manusia banyak atau sedikit pasti pernah melakukan tindakan kebajikan, seperti berdana, membaca atau menyebarkan dhamma dll.
  2. Setiap manusia yang berkumpul pasti mempunyai sanak saudara. Baik dikehidupan ini maupun dikehidupan yang lampau.
  3. Makin banyak yang melimpahkan jasa berarti makin banyak mahkluk yang menerima.
tetapi yang disayangkan saat pesta atau perayaan ini banyak yang larut dalam kegembiraannya sehingga lupa untuk melimpahkan jasa kebajikan kepada sanak saudara yang telah meninggal. Padahal mereka berkumpul di sudut – sudut ruangan, halaman depan dan sekitar kita. Memang pelimpahan jasa sering dilakukan pada saat kebaktian atau pada saat ada perayaan buddhis, atau saat berdana pada anggota Sangha, tetapi ada baiknya jika saat kita berpesta, bergembira dan berkumpul bersama dapat menambahkan kebiasaan melakukan pelimpahan jasa.

Saya menulis artikel ini dari pengalaman pribadi. Saya sering mengambil foto menggunakan kamera digital, hasil foto saya pada saat ada perayaan seperti pesta perkawinan atau acara perayaan berkumpulnya teman dan keluarga selalu timbul noda seperti jamur berbentuk bulat, tetapi kalau mengambil foto pada saat jalan- jalan atau sekedar memotret saja tidak ada noda tersebut. Jadi saya mengambil kesimpulan bahwa itu adalah bentuk dari mahkluk yang berkumpul menanti untuk diberikan pelimpahan jasa. Ini adalah kesimpulan saya.
                                                           
Gambar diatas pada saat pesta perkawinan terdapat banyak bulatan bulatan seperti jamur di udara,
Jadi harapan saya teman-teman se-dhamma bisa mengembangkan kebiasaan pelimpahan jasa ini demi kebahagiaan semua mahkluk.

Artikel ini adalah buah pikir dari penulis pribadi bila ada penulisan yang kurang sesuai atau tidak tepat. Mohon dibenarkan.

Namo buddhaya

No comments:

Post a Comment