Monday, October 28, 2019

MAJLIS PHA PA SAMNAK SURIYO BUKIT KELUBI.

MAJLIS PHA PA SAMNAK SURIYO BUKIT KELUBI 2019

Terbok, Tumpat. 2019.

Majlis Pha Pa akan diadakan di Samnak Suriyo,Bukit Kelubi,Pasir Era, Kuala Nal,
Kelantan seperti berikut:-

22 November 2019
     Jam 08.00 pagi Majlis Pebukaan Letak Kerja
     Jam 11.30 pagi Dana Makanan kepada phra
     Jam 04.00 ptg Perakan Pha Pa
     Jam 04.30 ptg Penyerahan Pha pa kepada phra

23 November 2019
     Jam 11.00 pagi Tak bat - dana makanan kepada phra
     Jam 11.30 serah makanan 1kepada phra
     Jam 12.00 makan tengah hari untuk umat awam.

Jawatankuasa Kerja Majlis.

Pengurusi                  Phra Phisalsamanakit (Than Boon Siripanno)
                                  Ketua Samisangha Kelantan.

Tim. Pengurusi          Phra Khru Visuddhammarat
                                  Timbalan Ketua Samisangha Kelantan

                                  Phrak Sau Ketua Sami Samnak Suriyo
                                  Phrak Phor Timbalan Ketua Sami Samnak Suriyo.

Semua umat awam buddhist di Kampong Pasir Senor, Temangan, Machang, Kg Bedal,
Bukit Langsat, Cabang 3 Bukit Sireh, Batu Jong, Guchil, Kuala Krai, Tanah Merah dan
semua umat Buddhist dimana-mana jua. dijembut hadir untuk menjayakan majlis ini.

Sekian, terima kasih.   Semoga anda semua berbahagia dan selamat.

Sadhu................

Pelan Kasar.  -   Jalan D219                                                      Jalan Dari Selatan
                                                                                                 Dari Kuala Lumpur
Jalan Dari Utara                                                                    Ke Kuala Krai
Dari KB,Pasir Mas, Tanah Merah ke Machang                       Ke Cabang 3 Bukit Sireh
ke K.Krai - Batu 30 masok kanan ke Temangan                     Ke Cabang 3 Bukit Geting
ke Kuala Hau Ke Bukit Kelubi. Samnak Suriyo.                    Ke kiri Pasir Era
(On kiri)                                                                                  Jalan Ke Kuala Hau
                                                                                                  Tiba Samnak Surio,
                                                                                                  Bukit Kelubi (on kanan)


Tuesday, October 15, 2019

APAKAH UMAT BUDDHA PENYEBAH BERHALA?


Apakah Umat Buddha Penyembah Berhala?
Oleh: Ven. K. Sri Dhammananda (B.Indonesia)

Penghormatan Terhadap Objek 

Dalam setiap agama pasti terdapat objek-objek atau simbol-simbol yang ditujukan untuk penghormatan. Dalam Buddhisme terdapat tiga objek agama yang utama untuk tujuan tersebut, yaitu: 

1. Saririka atau relik-relik jasmani Sang Buddha; 
2. Uddesika atau simbol-simbol agama seperti rupang (patung, gambar) Sang
    Buddha dan cetiya atau pagoda; 
3. Paribhogika atau barang-barang pribadi yang pernah digunakan oleh Buddha.

 Sudah menjadi hal yang biasa bagi semua umat Buddha di seluruh dunia untuk memberikan penghormatan kepada objek-objek di atas. Dan juga merupakan tradisi umat Buddha untuk membangun rupa Sang Buddha, cetiya atau pagoda pagoda serta menanam pohon Bodhi di setiap Vihara sebagai objek penghormatan keagamaan. 

 Banyak orang salah paham dan menggangap umat Buddha sebagai penyembah berhala. Kesalahpahaman ini disebabkan oleh kurangnya pengetahuan tentang ajaran Buddha serta adat istiadat dan tradisi Buddhis. 

 Penyembahan berhala secara umum berarti mendirikan patung dewa-dewi di beberapa agama theistik dalam berbagai bentuk oleh pemeluknya untuk disembah, mencari berkah dan perlindungan serta untuk berkah kemewahan, kesehatan dan kekayaan para pemohon. Beberapa pemohon bahkan memohon kepada patung untuk memenuhi bermacam kekuasaan pribadi walaupun kekuasaan itu diperolehi dengan cara yang salah. Mereka juga berdoa agar dosa mereka diampuni. 

 Pemujaan terhadap rupa (gambar/patung) Sang Buddha sebenarnya berbeda dengan aspek yang diterangkan diatas. Bahkan istilah “menyembah” ini sendiri tidak sesuai dengan sudut pandang Buddhis. “Memberi penghormatan” merupakan istilah yang lebih tepat. Umat Buddha tidak berdoa kepada patung atau berhala; apa yang mereka lakukan adalah memberi penghormatan kepada seorang guru agama yang agung yang layak diberi penghormatan. Rupa-rupa didirikan sebagai tanda penghormatan dan penghargaan untuk pencapaian tertinggi dari Pencerahan dan kesempurnaan yang dicapai oleh seorang guru agama yang luar biasa. Bagi seseorang Buddhis, rupa (gambar/patung) Sang Buddha hanya merupakan suatu tanda, simbol yang membantunya mengingat Sang Buddha. 

 Umat Buddha berlutut dan memberi hormat kepada rupa (gambar/patung) sebenarnya memberi hormat kepada apa yang di wakili dari rupa (gambar/patung) itu. Mereka mencari keinginan duniawi dari rupa (gambar/patung) tersebut. Mereka merenung dan bermeditasi untuk mendapatkan inspirasi dari kepribadian mulia Sang Buddha. Mereka berusaha menyamakan kesempurnaanNya dengan mengikuti ajaran-ajaran mulia Sang Buddha. 

  Umat Buddha menghormati kebajikan dan kesucian guru agamanya yang diwakili oleh rupa (gambar/patung) tersebut. Faktanya semua penganut agama menciptakan rupa (gambar/patung) yang mewakili guru agama mereka baik dalam bentuk visual atau dalam bentuk penggambaran secara pikiran untuk penghormatan. Oleh karena itu, tidak tepat dan tidak adil untuk mengkritik dan menyatakan bahwa umat Buddha adalah penyembah berhala

 Tindakan memberi penghormatan kepada seorang yang mulia, Sang Buddha, bukanlah suatu perbuatan yang dilakukan atas dasar rasa takut atau perbuatan untuk memohon kebahagiaan duniawi. Umat Buddha percaya bahwa perbuatan menghargai dan menghormati ciri-ciri suci yang dimiliki oleh guru agama mereka merupakan suatu perbuatan yang berpahala dan membawa berkat. Umat Buddha juga percaya bahwa mereka sendiri yang bertanggungjawab atas keselamatan diri mereka sendiri dan tidak harus bergantung kepada pihak ketiga. Meskipun demikian, ada pihak lain yang percaya bahwa mereka boleh mendapat keselamatan mereka melalui perantaran pihak ketiga dan mereka inilah yang mengkritik umat Buddha sebagai penyembah rupa (gambar/patung) seorang yang sudah tiada lagi di dunia. Fisik seseorang boleh mengalami disintegrasi dan terurai menjadi empat unsur tetapi kebajikannya akan kekal selamanya. Seorang Buddhis menghargai dan menghormati sifat-sifat mulia ini. Oleh itu, tuduhan terus mmenerus terhadap umat Buddha sanagt disayangkan, sama sekali salah serta tidak berdasar. 

 Ketika kita mempelajari ajaran Sang Buddha, kita dapat memahami Sang Bhagava telah mengatakan bahwa Sang Buddha hanyalah seorang guru yang telah menunjukkan jalan yang benar untuk keselamatan dan berpulang kembali kepada penganutnya untuk menjalani kehidupan beragama dan menyucikan pikiran mereka untuk mendapatkan keselamatan tanpa bergantung kepada guru agama mereka. Menurut Sang Buddha, tidak ada tuhan atau guru agama manapun yang dapat memasukkan seseorang ke dalam surga atau neraka. Manusia menciptakan surga dan nerakanya sendiri melalui pikiran, tindak-tanduk serta perkataan mereka sendiri. 

 Oleh karena itu, berdoa kepada pihak ketiga untuk keselamatan diri tanpa menyingkirkan pikiran jahat merupakan satu perbuatan yang sia-sia. Namun begitu, ada beberapa orang termasuk umat Buddha dalam melakukan sembahyang tradisonal di hadapan rupa (gambar/patung) akan mencurahkan masalah-masalah mereka, nasib malang yang dialami serta kesulitan yang dihadapi dan memohon pertolongan Sang Buddha untuk membantu mereka menyelesaikan masalah-masalah tersebut. Walaupun perbuatan tersebut bukan suatu praktik Buddhis yang sebenar, tetapi perbuatan demikian dapat mengurangi ketegangan emosi, memberi inspirasi kepada pemohon untuk mendapatkan keberanian dan ketetapan hati untuk menyelesaikan masalah yang mereka hadapi.

 Hal ini juga umum dilakukan dibeberapa agama lain. Tetapi bagi mereka yang dapat memahami sebenarnya penyebab dasar dari permasalahan mereka, mereka tidak memelukan tindakan seperti itu. Ketika umat Buddha menghormati Sang Buddha, mereka menghormatiNya dengan malafalkan kalimat-kalimat yang memuliakan kebajikan murniNya. Kalimat-kalimat ini bukanlah doa-doa dalam hal meminta kepada tuhan atau dewa untuk menghapus dosa mereka. Kalimat-kalimat ini hanya bertujuan untuk memberikan penghormatan kepada seorang Guru Agung yang telah mencapai Pencerahan dan menunjukkan cara hidup yang benar untuk kebaikan manusia. 

 Umat Buddha menghormati guru agama mereka atas dasar rasa berterima kasih sedangkan penganut agama lain berdoa dan membuat permohonan untuk mendapatkan keuntungan dan manfaat bagi mereka. Sang Buddha juga menasihati kita untuk “menghormati mereka yang pantas dihormati.” Oleh karena itu, seorang Buddhis boleh mengakui dan menghormati guru agama manapun yang patut dan layak dihormati. 

 Di tempat puja bakti, umat Buddha melaksanakan meditasi untuk melatih pikiran dan disiplin diri. Untuk tujuan meditasi, sebuah objek diperlukan; tanpa suatu objek untuk dipegang, tidaklah mudah untuk berkonsentrasi. Umat Buddha kadangkala menggunakan rupa (gambar/patung) Sang Buddha sebagai objek dimana mereka dapat berkonsentrasi dan mengontrol pikiran mereka. 

 Di antara banyak objek meditasi, objek visual (yang boleh dilihat dengan nyata) memiliki efek yang lebih baik dalam pikiran. Di antara lima pancaindera, objek yang kita tangkap melalui kesadaran penglihatan (mata) memiliki pengaruh lebih besar pada pikiran dibanding dengan objek-objek yang ditangkap melalui kesadaran indera lainnya. Indera penglihatan dapat mempengaruhi pikiran lebih dari indera lainnya. Oleh karena itu, objek yang dapat ditangkap oleh mata membantu pikiran untuk konsentrasi secara lebih mudah dan lebih baik. 

 Gambar atau bentuk adalah bahasa bawah sadar (sub-conscious). Jika demikian, rupa (gambar/patung) Sang Buddha tereflesikan dalam pikiran seseorang sebagai penjelmaan seorang yang sempurna, refleksi ini akan menembus pikiran bawah sadar seseorang dan jika cukup kuat, secara otomatis akan bertidak sebagai pengerem keinginan jahat. 

 Sebagai suatu objek visual, rupa (gambar/patung) Buddha mempunyai kesan yang baik dalam pikiran; perenungan akan pencapaian dari Sang Buddha dapat menghasilkan kegembiraan, kesegaran pikiran dan menghilangkan ketegangan, keresahan dan frutasi di dalam diri seseorang. 

 Salah satu tujuan dalam meditasi “Buddha – nussati” (Perenungan Terhadap Buddha), yaitu untuk menciptakan rasa bakti dan keyakinan terhadap Sang Buddha dengan menyadari dan menghargai keagungan Beliau. Oleh karena itu, “menyembah” rupa (gambar/patung) Sang Buddha, dimana tidak terdapat doa permohonan, sumpah-sumpah atau ritual tidak boleh dianggap sebagai menyembah berhala, tetapi sebagai suatu bentuk penghormatan yang ideal.

 Penghormatan 

Beberapa kalimat yang dibacakan oleh umat Buddha untuk mengenang Guru Agung mereka sebagai tanda penghormatan dalam rasa terima kasih dan dalam pujian kepada Sang Buddha berbunyi seperti berikut: 

Namo Tassa Bhagavato Arahato Sammasambuddhassa Terpujilah Sang Bhagava, Yang Maha Suci, Yang Telah Mencapai Pencerahan Sempurna. 

Selanjutnya mereka membaca kalimat yang menjelaskan ciri-ciri agung dan kebajikan Sang Buddha seperti berikut: 

“Iti pi so Bhagava Araham Samma sambuddho vijja carana–sampanno Sugato Lokavidu Anuttaro Purisa dammasarathi Sattha Devamanussanam Buddho Bhagava ti” 

Keseluruhan kalimat ini di dalam bahasa Pali. Jika anda tidak terbiasa dengan bahasa ini, anda d melafalkan kalimat tersebut dalam berbagai bahasa yang anda ketahui. Terjemahannya di dalam bahasa Indonesia seperti berikut: 

 “Demikianlah Sang Bhagava, Yang Maha Suci, Yang Telah Mencapai Penerangan Sempurna: Sempurna pengetahuan serta tindak–tandukNya, Sempurna menempuh Sang Jalan (ke Nibbana), Pengenal segenap alam, Pembimbing yang tiada taranya, Guru para dewa dan manusia, Yang Sadar , Yang Patut Dimuliakan” 

 Beberapa kalimat yang dibacakan oleh umat Buddha untuk mengenang Guru Agung mereka sebagai tanda penghormatan dalam rasa terima kasih dan dalam pujian kepada Sang Buddha berbunyi seperti berikut: 

 Namo Tassa Bhagavato Arahato Sammasambuddhassa Terpujilah Sang Bhagava, Yang Maha Suci, Yang Telah Mencapai Pencerahan Sempurna. 

Selanjutnya mereka membaca kalimat yang menjelaskan ciri-ciri agung dan kebajikan Sang Buddha seperti berikut:Keseluruhan kalimat ini di dalam bahasa Pali. Jika anda tidak terbiasa dengan bahasa ini, anda d melafalkan kalimat tersebut dalam berbagai bahasa yang anda ketahui. Terjemahannya di dalam bahasa Indonesia seperti berikut: 

 Sebuah Kisah Buddhis 

Ada sebuah kisah yang akan membantu kita memahami mengapa rupa (gambar/patung) Sang Buddha penting untuk memberi inspirasi pikiran kita serta mengenang Sang Buddha dalam pikiran kita. Kisah ini terdapat di dalam kitab suci Buddhis tetapi tidak di dalam Tipitaka Pali. 

 Beberapa ratus tahun setelah Sang Buddha mangkat, ada seorang bhikkhu yang taat di India bernama Upagupta. Beliau adalah penyebar agama yang paling popular pada masa itu. Setiap kali Beliau menyampaikan ceramah Dhamma, beribu–ribu orang akan datang mendengarkan ceramah Dhamma yang disampaikannya.

 Pada suatu hari, Mara, si penggoda, merasa iri hati dengan kemasyhuran Yang Mulia Upagupta. Mara mengetahui bahwa kemasyhuran Upagupta membantu penyebaran ajaran Sang Buddha. Mara tidak menyukai melihat perkataan Sang Buddha memenuhi pikiran dan hati banyak orang. Mara membuat rencana untuk menghentikan orang-orang orang mendengarkan ceramah-ceramah Upagupta. Suatu hari, ketika Upagupta memulai ceramahnya, Mara mengadakan suatu pertunjukan bersebelahan dengan tempat dimana Upagupta berkotbah. Sebuah pentas yang indah muncul dengan tiba–tiba. Terdapat gadis-gadis penari yang cantik dan musisi yang lincah. 

 Orang-orang segera melupakan ceramah Upagupta dan beralih ke pertunjukkan untuk menikmati pernampilannya. Upagupta memperhatikan orang-orang perlahan-lahan meninggalkannya. Kemudian Beliau juga memutuskan untuk bergabung dalam kerumunan. Setelah itu ia memutuskan untuk memberikan pelajaran kepada Mara. 

 Ketika pertunjukkan itu berakhir, Upagupta menghadiahkan sebuah kalung bunga kepada Mara. 

“Kau telah menyusun suatu pertunjukkan yang luar biasa,“ kata Yang Mulia Upagupta. Mara tentu saja merasa senang dan bangga dengan pencapaiannya. Dengan sukacitanya, Mara menerima kalung bunga dari Upagupta dan mengangkat kepalanya tinggi-tinggi. 

 Tiba–tiba kalung bunga itu berubah menjadi lilitan menyerupai ular. Perlahan-lahan lilitan itu menjadi semakin ketat dan mencekik leher Mara. Lilitan itu mencengkram lehernya begitu sakitnya, sehingga ia mencoba menarik lilitan itu hingga putus. Walau seberapa kuat Mara menariknya, ia tidak bisa melepaskan lilitan itu dari lehernya. Ia pergi mencari Sakka untu membuka lilitan itu. Sakka juga tidak bisa melepasnya. “Saya tidak dapat melepaskan lilitan ini,” kata Sakka. “Pergilah dan temui Maha Brahma yang paling kuat.” 

 Lalu, Mara pun pergi menemui Maha Brahma dan meminta pertolongannya; tapi Maha Brahma juga tidak bisa berbuat apapun. “Saya tidak dapat melepaskan lilitan ini, satu-satunya orang yang dapat melepaskan lilitan ini adalah orang yang memakaikannya kepadamu,” kata Maha Brahma. 

 Lalu, Mara terpaksa kembali ke Yang Mulia Upagupta. 

 “Tolong bukakan lilitan ini; ia sangat menyakitkan,” Mara memohon. “Baiklah, saya akan melakukannya tetapi dengan dua kondisi,” kata Upagupta. “Kondisi pertama yaitu kau harus berjanji untuk tidak mengganggu para penganut di masa depan. Kondisi kedua yaitu kau harus menunjukkan kepadaku wujud Sang Buddha yang sebenarnya. Karena saya tahu engkau pernah melihat Sang Buddha dalam beberapa kesempatan, tapi saya tidak pernah melihatNya. Saya ingin melihat wujud sebenarnya dari Sang Buddha sama persis, dengan 32 tanda istimewa yang terdapat pada fisikNya.”

 Mara merasa sangat gembira. Ia setuju dengan Upagupta. “Tapi satu hal”, pinta Mara. “Jika saya merubah diri saya menjadi rupa Sang Buddha, kau harus berjanji untuk tidak akan menyembah saya kerena saya bukan orang suci sepertimu.” “Saya tidak akan menyembahmu,” janji Upagupta. 

 Tiba-tiba Mara merubah dirinya menjadi rupa yang terlihat persis sama seperti Sang Buddha. Ketika Upagupta melihat rupa itu, pikirannya dipenuhi dengan inspirasi besar; rasa baktinya muncul dari dalam hatinya. Dengan tangan beranjali, dengan segera Beliau menyembah figur Buddha itu. 

 “Kau telah melanggar janjimu,” teriak Mara. “Engkau berjanji tidak akan menyembah saya. 

 Sekarang, kenapa kau menyembah saya?” 

 “Saya tidak menyembahmu. Kau harus memahami saya sedang menyembah Sang Buddha,” kata Yang Mulia Upagupta. 

Berdasarkan kisah ini, kita dapat memahami mengapa rupang (gambar/patung) Sang Buddha penting untuk memberi inspirasi kepada kita dan mengingat kemuliaan Sang Buddha dalam pikiran kita sehingga kita dapat memuliakannya. Kita sebagai Buddhis tidak menyembah simbol material atau wujud yang hanya mewakili Sang Buddha. Tetapi kita memberi penghormatan kepada Sang Buddha. 

Inspirasi dari Rupa Sang Buddha 

Sang Buddha telah mangkat dan mencapai Nibbana. Sang Buddha tidak memerlukan penghormatan atau persembahan ,tetapi hasil dari penghormatan akan mengikuti kita dan orang-orang akan mendapatkan manfaat dengan mengikuti teladanNya serta merefleksikan melalui pengorbanan tertinggi dan kualitas agungNya. 

 Seorang Buddhis tidak melakukan pengorbanan binatang atas nama Sang Buddha. Ketika beberapa Buddhis melihat rupang (gambar/patung) Sang Buddha, rasa bakti dan kebahagiaan muncul dalam pikirannya. Rasa bakti atau kebahagiaan ini merupakan suatu objek yang menciptakan pikiran luhur di dalam pikiran seorang Buddhis yang berbakti. Rupang (gambar/patung) Sang Buddha ini juga membantu orang untuk melupakan kerisauan mereka, kekecewaan dan masalah-masalah serta membantu mereka mengontrol pikiran mereka. 

 Beberapa filosof terkenal dunia, para sejarahwan dan sarjana menyimpan rupang (gambar/patung) Sang Buddha di atas meja di dalam ruang baca mereka untuk mendapatkan inspirasi kehidupan dan pemikiran yang lebih tinggi. Kebanyakan dari mereka adalah non-Buddhis. Banyak orang menghormati kedua orang tua mereka yang telah meninggal, guru, para pahlawan besar, para raja dan ratu, pemimpin nasional dan politik serta orang-orang lain yang disayangi dengan menyimpan gambar-gambar untuk menghargai memori mereka. Mereka mempersembahkan bunga untuk
menyatakan perasaan kasih, terima kasih, penghargaan, penghormatan dan bakti mereka. Mereka mengenang kembali kualitas mulia dan mengingatnya dengan bangga atas pengorbanan dan pelayanan yang diberikan oleh para tokoh ketika mereka masih hidup. 

 Orang-orang juga mendirikan patung untuk mengenang beberapa tokoh pemimpin politik tertentu yang telah membantai berjuta nyawa yang tidak bersalah. Karena kejahatan dan ketamakan mereka untuk mendapatkan kekuasaan, mereka menjajah negara-negara yang miski dan menciptakan penderitaan, kekejaman, dan kesengsaraan yang tak terkira dengan tindakan perampasan mereka. Namun, mereka masih dianggap sebagai pahlawan besar; dan peringatan tanda jasa diselenggarakan untuk menghormati mereka, dan memberikan bunga-bunga di atas makam dan kuburan mereka. Jika perbuatan tersebut dapat dibenarkan mengapa sebagian orang mengejek umat Buddha sebagai pemuja berhala ketika mereka memberikan penghormatan kepada guru agama mereka yang telah melayani umat manusia tanpa merugikan yang lain dan yang telah menaklukkan seluruh dunia melalui kasih sayang, belas kasih dan kebijaksanaanNya? 

 Bisakah seseorang dengan pikiran sehat mengatakan bahwa menghormati rupang (gambar/patung) Sang Buddha sebagai sesuatu yang tidak berbudaya, tidak bermoral atau tindakan yang merugikan seperti mengganggu kedamaian dan kebahagiaan orang lain? 

 Apabila sebuah rupang (gambar/patung) sama sekali tidak penting bagi manusia dalam menjalankan agama maka simbol-simbol agama tertentu dan tempat-tempat beribadat juga tidak diperlukan. Umat Buddha dikecam oleh beberapa orang sebagai penyembah batu. Tetapi menyembah batu tidak berbahaya dan lebih terhormat dibandingkan dengan umat agama lain yang melakukan pelemparan batu. 

 Pentingnya Praktek 

 Bagaimanapun juga, untuk mempraktekkan ajaran-ajaran Sang Buddha, keberadaan rupang (gambar/patung) Sang Buddha bukanlah suatu keharusan . Seorang Buddhis dapat mempraktekkan agama mereka tanpa rupang (gambar/patung) Sang Buddha; mereka bisa melakukan hal ini kerena Sang Buddha tidak menganjurkan manusia untuk mengembangkan pengkultusan individu, dimana menurut ajaran Sang Buddha, seorang Buddhis tidak sepatutnya bergantung kepada orang lain bahkan kepada Sang Buddha sendiri untuk keselamatan dirinya. 

 Semasa kehidupan Sang Buddha, ada seorang bhikkhu bernama Wakkali. Bhikkhu ini selalu duduk di hadapan Sang Buddha dan mengagumi keindahan ciri-ciri fisik Sang Buddha. Wakkali mengatakan bahwa ia mendapat kebahagiaan dan inspirasi yang besar dengan mengagumi keindahan Sang Buddha. Sang Buddha menjawab, “Engkau tidak dapat melihat Buddha yang sebenarnya dengan hanya melihat tubuh fisiknya saja. Mereka yang melihat ajaran saya maka melihat saya”.

 Aspek yang paling penting sekali dalam Buddhisme adalah mempraktekkan nasihat-nasihat yang diberikan oleh Sang Buddha. Di dalam hal ini, tidak ada bedanya antara seorang Buddhis yang memberi penghormatan kepada Sang Buddha dengan yang tidak. Tetapi bagi beberapa umat, penghormatan ini sangat penting. Bagaimanapun juga, Sang Buddha tidak mengatakan bahwa Beliau mengharapkan penghormatan. 

Asal Muasal Rupang Buddha 

 Lalu, Bagaimanakah rupang (gambar/patung) Buddha bermula? Sukar untuk mengetahui apakah ide ini diberikan oleh Sang Buddha atau tidak. Tidak ada satupun dalam kitab suci Buddhis bahwa Sang Buddha meminta untuk membuat rupang (gambar/patung) Nya. Namun, Sang Buddha memberikan ijin untuk menyimpan relik-relik Beliau. 

 Suatu ketika Yang Mulia Ananda pernah ingin mengetahui mengetahui apakah diijinkan mendirikan pagoda (cetiya) untuk mengenang Sang Buddha sebagai cara menghormati Beliau. Kemudian Yang Mulia Ananda bertanya kepada Sang Buddha, ”Apakah layak, Yang Mulia, untuk membangun sebuah pagoda ketika Sang Bhagava masih hidup?” 

 Sang Buddha menjawab, “Tidak, adalah tidak layak ketika Saya masih hidup. Engkau bisa membangun objek penghormatan ini hanya setelah Saya tiada.” 

 Juga dalam kotbah terakhirNya, Maha Parinibbana Sutta, Sang Buddha menasihati para siswaNya bahwa jika mereka ingin menghormati Sang Buddha setelah Ia tiada, mereka boleh membangun pagoda-pagoda untuk menyimpan relik tubuhNya. Nasihat ini sesuai dengan kebiasaan di India pada masa itu: kebiasaan membangun pagoda-pagoda untuk menyimpan relik orang–orang yang suci. Relik ini disimpan sebagai suatu kenangan sebagai tanda penghormatan kepada orang-orang suci. Pada saat yang sama, Sang Buddha sendiri tidak menganjurkan dan juga tidak melarang para siswaNya untuk mendirikan rupang (gambar/patung)Nya setelah Ia meninggal dunia. Idea untuk menciptakan rupang (gambar/patung) Buddha datang dari pengikut-pengikutNya yang ingin memuja pemimpin terkasih mereka dan bertujuan mendapat inspirasi dari pribadi Sang Buddha yang luhur. Mereka juga menggunakannya untuk menyimpan sebagian dari relik Sang Buddha di dalam rupang (gambar/patung) tersebut setelah didirikan. 

 Fa-hsien, yang mengunjungi India pada akhir abad keempat menyebutkan dalam catatannya bagaimana rupang (gambar/patung) Sang Buddha yang pertama didirikan. Bagaimanapun, kitab-kitab suci Buddhis tidak menyebut apa-apa tentang pengamatan Fa-hsien tersebut. Meskipun demikian, mitologi mencatat sebagai berikut: 

 Pada suatu ketika, Sang Buddha menghabiskan waktu selama tiga bulan di surga mengajarkan Abhidhamma atau Dhamma Yang Tertinggi. Selama kepergian Beliau, orang-orang yang pergi ke
vihara merasa sangat tidak gembira kerena mereka tidak dapat melihat Sang Buddha. Mereka mulai mengeluh. Siswa Utama, Yang Mulia Sariputta, pergi menemui dan melaporkan situasi itu kepada Sang Buddha. Sang Buddha menasihati Beliau untuk mencari seseorang yang dapat membuat rupang (gambar/patung) yang sama persis dengan diri Sang Buddha; kemudian orang-orang akan menjadi gembira melihat rupang Sang Buddha. Sariputta pun kembali dan menemui raja untuk meminta kebaikannya untuk menolong mencari seseorang yang dapat membuat tiruan Sang Buddha. Tidak lama kemudian, orang yang dicari ditemukan; dia mengukir rupang dari kayu cedana. Setelah rupang itu diletakkan di vihara, orang-orang menjadi sangat gembira. Sejak saat itu, selanjutnya, menurut Fa-hsien, orang-orang mulai meniru replika Sang Buddha tersebut. 

 Tetapi hal yang sukar untuk menemukan bukti di dalam literatur Buddhis dan sejarah untuk mendukung keberadaan Rupang Sang Buddha di India sampai hampir 500 tahun setelah Sang Buddha mangkat. Pada masa itu, para umat biasanya menghormati Sang Buddha dengan menyimpan bunga teratai atau gambar telapak kaki Sang Buddha. Nampaknya, pada permulaan beberapa umat Buddha tidak menyukai membuat rupang Sang Buddha, mengingat memungkinkan terjadinya penyimpangan terhadap ciri-ciri penting Sang Buddha. 

 Banyak para sejarahwan mengklaim bahwa rupang (gambar/patung) Sang Buddha dibuat pertama kali di India pada masa pendudukan bangsa Yunani. Orang–orang Yunani membantu dan menganjurkan orang–orang India dalam seni membangun rupang Sang Buddha. Sejak saat itu, orang-orang di berbagai negara mulai mendirikan rupang Sang Buddha. Rupang-rupang di berbagai negara diukir dan dibentuk mengikut gaya dan seni yang menggambarkan ciri–ciri fisik orang–orang di negara tersebut. Di dalanm negara Buddhis itu sendiri, gaya dari Rupang Sang Buddha pun berkembang menjadi beragam bentuk dan gaya disesuaikan dengan perubahan jaman dan sejarah. 

Pendapat Para Intelektual Mengenai Rupang Buddha 

Pendit Nehru, mantan Perdana Menteri India, mengulas tentang rupang (gambar/patung) Buddha seperti berikut: 

“MataNya tertutup, tetapi ada suatu kekuatan spiritual yang keluar dari matanya dan energi vital memenuhi strukturnya. Banyak jaman bergulir, dan nampaknya Sang Buddha tidak pergi terlalu jauh; suaranNya berbisik di telinga kita dan memberitahu kita supaya jangan lari dari perjuangan tetapi, menghadapinya dengan pandangan tenang, dan melihat peluang–peluang besar dalam hidup untuk terus berkembang dan maju.” Nehru juga pernah berkata, “Semasa saya berada di dalam penjara, saya sentiasa memikirkan tentang rupang (gambar/patung) Buddha yang merupakan sumber inspirasi yang luar biasa untuk saya.”

Semasa Perang Dunia Kedua, General Ian Hamilton menemukan sebuah rupang Buddha di dalam sebuah reruntuhan vihara di Burma. Ia mengirim rupang tersebut ke Winston Churchill yang pada waktu itu menjadi Perdana Menteri Inggris dengan satu pesanan: “Ketika anda khawatir, lihatlah rupang yang wajahnya begitu tenang dan tersenyumlah kepada kekhawatiran anda.” 

Count Keyserling, seorang filosof berkata: 

“Saya tidak mengetahui hal lain yang lebih agung di dunia ini selain dari figur seorang Buddha; yang merupakan suatu penjelmaan spiritual yang sungguh sempurna di dalam dunia nyata (visible domain)” 

 Sarjana lain berkata: 

 “Rupang (gambar/patung) Buddha yang kita lihat merupakan suatu simbol yang mewakili kualitas. Pujian dan penghormatan kepada Sang Buddha tidak lain merupakan suatu simbol penghargaan atas keagungan dan kebahagian yang kita ketemui melalui ajaranNya.” Ketenangan dan ketentraman rupang Sang Buddha telah menjadi konsep umum kecantikan dari keindahan yang ideal. Rupang Sang Buddha merupakan sesuatu yang sangat berharga, aset kebudayaan Asia yang paling berharga dan dipunyai oleh banyak orang. Tanpa rupang Buddha, Asia hanya akan dikenali sebagai suatu kawasan geografi saja mespikun semakmur apapun. 

 Umat Buddhis menghormati patung Sang Buddha sebagai monumen keagungan, kebijaksanaan, yang paling sempurna, dan penuh belas kasih dari seorang guru agama yang pernah hidup di dunia ini. Rupang ini diperlukan untuk mengingat kembali Sang Buddha dan kualitas agungNya yang memberikan inspirasi kepada jutaan manusia dari generasi ke generasi dalam dunia yang berbudaya. Rupang ini menolong mereka berkonsentrasi kepada Buddha. Mereka merasakan kehadiran Sang Guru di dalam pikiran mereka, dan dengan demikian menjadikan penghormatan mereka lebih jelas dan bermakna. 

 Sebagai seorang Buddhis, akan sangat tepat sekiranya untuk anda mempunyai rupang atau gambar Buddha di dalam rumah anda. Simpanlah rupang atau gambar ini bukan sebagai pajangan yang dipamerkan tetapi sebagai objek puja, penghormatan, dan inspirasi. Ketentraman rupang Buddha merupakan satu simbol yang memancarkan kasih sayang, kesucian dan kesempurnaan yang menjadi sumber penghibur dan inspirasi dalam membantu anda mengatasi berbagai permasalahan dan kekhawatiran yang harus anda hadapi dalam akitivitas keseharian di dunia yang bermasalah ini. 

 Ketika anda memberi penghormatan kepada Sang Buddha, anda akan mendapat banyak manfaat apabila anda bermeditasi beberapa saat dengan memfokuskuskan pikiran anda pada kualitas agung dan mulia Sang Buddha. Jika anda memikirkan Guru Agung, anda dapat menyempurnakan diri anda
melalui bimbinganNya. Oleh karena itu, bukan hal yang tidak wajar penghormatan ini terekspresikan di dalam bentuk seni dan pahatan yang terbaik dan terindah di dunia. 

 Seorang penulis terkenal lainnya mengatakan di dalam bahasa filsafatnya mengenai arti sebenarnya di dalam memberi penghormatan kepada Sang Buddha, seperti berikut: 

“Kita juga perlu memberi penghormatan meskipun pemujaan itu diarahkan bukan untuk seorang-karena sebenarnya semua personalitas merupakan mimpi, tetapi pemujaan itu diarahkan kepada kesesuaian hati kita. Dengan itu, kita dapat menemui kekuatan baru dan membangun mahligai kehidupan kita sendiri, membersihkan hati kita sampai layak untuk membawa rupang tersebut di dalam tempat perlindungan kasih sayang yang mendalam. Di atas altarnya, kita semua perlu mempersembahkan hadiah bukan cahaya yang padam, bunga-bunga yang layu, tetapi tindakan kasih sayang, pengorbanan dan tanpa keakuan terhadap semua yang berada di sekeliling kita.” 

 Anatol France, di dalam autobiografinya menulis, “Di awal bulan Mei, 1890, kesempatan membawaku untuk mengunjungi sebuah musium di Paris. Di sana berdiri dewa-dewa Asia dalam kesunyian dan kesederhanaan, pandanganku jatuh pada patung Sang Buddha yang memberi isyarat kepada penderitaan manusia untuk mengembangkan pemahaman dan belas kasih. Jika ada tuhan yang pernah berjalan di atas muka bumi ini, saya merasakan Beliaulah (Buddha) orangnya. Saya merasa seperti berlutut dan berdoa kepadaNya seperti kepada Tuhan.” 

Mr. Ouspensky, seorang penulis Barat lainnya, mengekspresikan perasaannya terhadap rupang Buddha yang ia temukan di Sri Lanka. Ia berkata, “Rupang Buddha ini merupakan suatu bagian seni yang sungguh istimewa. Saya tidak mengetahui hasil karya seni lainnya yang sejajar dengan rupang Buddha dengan mata dari batu safir, dimana sepengetahuan saya tidak ada karya seni yang dapat mengekspresikan dengan sempurna idea suatu agama seperti wajah rupang Buddha yang mengekspresikan ide Buddhisme.” Selanjutnya ia berkata, ”Tidak perlu membaca banyak buku tentang Buddhisme atau berjalan bersama dengan para professor yang mempelajari agama–agama Timur atau belajar dengan para bhikkhu. Seseorang harus datang ke sini, berdiri di hadapan rupang Buddha ini dan biarkan pancaran mata birunya menembus kehidupannya, dan dia akan memahami apa itu Buddhisme.” 

Kesenian Buddhis yang indah dari membangun rupang, menciptakan lukisan dinding tentang beragam kisah Buddhis telah memberikan inspirasi yang sangat besar pada kekayaan seni dan budaya di hampir setiap negara Asia lebih dari 2000 tahun. 

 Apakah yang membuat pesan-pesan Sang Buddha begitu diminati oleh orang yang telah mengembangkan intelektual mereka? Jawabannya mungkin terlihat pada ketentraman rupang Sang Buddha. Bukan hanya dalam warna dan garis manusia mengekspresikan keyakinannya terhadap Sang Buddha dan ajaranNya. Tangan manusia menempa logam dan batu memproduksi rupang Buddha yang merupakan salah satu ciptaan terbesar dari kejeniusan manusia.

 Jika umat Buddha benar–benar ingin melihat kehadiran Sang Buddha dalam segala keagungan dan keindahanNya, mereka harus menerjemahkan ajaran-ajaranNya ke dalam tindakan dan situasi praktis pada kehidupan sehari-hari mereka. Dengan mempraktekkan ajaran-ajaranNya mereka dapat mendekatkan diri dan merasakan pancaran yang luar biasa dari kebijaksanaan dan belas kasihNya yang tidak kunjung padam. Hanya menghormati rupang Sang Buddha tanpa mengikuti ajaran muliaNya bukannya cara untuk menemukan keselamatan. 

 KehidupanNya begitu indah, hatiNya begitu suci dan baik, pikiranNya begitu dalam dan tercerahkan, kepribadianNya begitu menginspirasikan dan tanpa ke-aku-an – kehidupan yang sangat sempurna, hati yang sangat berbelas kasih, pikiran yang sangat tenang, kepribadian yang sangat tentram yang patut di hormati, layak diberi penghormatan dan layak diberi persembahan. Sang Buddha yang merupakan kesempurnaan tertinggi dari umat manusia, dan keindahan dari kemanusiaan. 

 Sir Edwin Arnold menjelaskan sifat alami Kebuddhaan di dalam bukunya ”Light of Asia” (Cahaya Asia) seperti berikut: 

 “Ini adalah bunga dari pohon manusia kita yang berkembang dalam beribu–ribu tahun. Takkala berkembang, mengisi dunia dengan harum kebijaksanaan dan menjatuhkan madu kasih sayang.” Seorang penyair terkemuka India, Rabindranath Tagore menyebutkan hal penting dari penampilan Sang Buddha dalam bahasa puitisnya dengan cara berikut: 

 Semua makhluk menangis atas kelahiran baru mereka. 
Oh, Engkau yang hidup tanpa batas 
Selamatkanlah mereka, 
bangkitkanlah suara harapan abadiMu 
Biarkan teratai cinta dengan harta madu yang tak terhingga itu, 
membuka kelopaknya dalam cahayanya. Oh Kedamaian, 
Oh Kebebasan, 
Di dalam belas kasih dan kebaikanMu yang tidak terukur, 
Singkirkanlah semua noda gelap dari hati dunia ini. 
Namo Buddhaya – Terpujilah Sang Buddha. 
-end-

Sunday, October 13, 2019

AKTIVITI PHAPA WAT SALAWANOTHAYAN 2019

MAJLIS PHAPA WAT SALAWANOTHAYAN

TARIKH :24 HINGGA 26 OKTOBER 2019

TEMPAT; WAT SALAWANOTHAYAN BATU JONG

AKTIVITI:

                  24 OKTOBER 2019 : LETAK KERJA-
                                                      KETIBAAN TETAMU
                                                      UMAT AWAM BERDANA

                   25 OKTOBER 2019 :KETIBAAN UMAT BUDDHIST
                                                      BERDANA
                                                      PERARAKAN PHAPA DAN PENYERAHAN
                                                      KEPADA KETUA VIHARA

                    26 OKTOBER 2019;ACARA PENUTUP
                                                      TAK BAT / SAIBAT.

SEKIAN TERIMA KASIH.

Lokapāladhamma

Lokapāladhamma
Y.M. Bhikkhu Sri Paññāvaro Mahathera.

LOKA berarti Dunia
PĀLA berarti pelindung
DHAMMA berarti ajaran

Lokapaladhamma berarti Dhamma yang melindungi dunia.
Dhamma yang melindungi dunia dibagi atas dua macam, yaitu:

1. HIRI, berarti malu akan diri sendiri dalam melakukan perbuatan
jahat.

2. OTTAPPA, berarti takut akan akibat dari perbuatan jahat.

Arti umum:

1. Dalam pelajaran tentang Dhamma yang amat menolong bagian
Dhammacariya bab 3 telah diajarkan Dhamma yang menjadi
dasar permulaan perbuatan baik. Pokok ajaran ini adalah kita
hendaknya menjadi orang baik dan bagaimana kita menjadi orang
baik, atau dalam hal ini kita harus berbuat kebaikan. Berbuat
kebaikan ini semua harus berdasarkan pada Upakaradhamma,
Dhamma yang amat menolong, yang terdiri dari Sati dan
Sampajañña. Kedua hal ini baru saja secara bersama-sama kita
pelajari.

Akan tetapi masih ada hal-hal yang harus kita pelajari. kita harus
menyadari bahwa bukan hanya diri kita sendiri yang berada dalam
dunia ini melainkan kita bersama-sama dengan masyarakat lainnya
yang berkelompok seperti dalam rumah, dalam vihara, dalam
kampung, dalam desa, dalam kecamatan, dalam kabupaten, dalam
propinsi dan dalam tempat lainnya di dunia.

2. Bila kclompok-kelompok umat manusia itu mempunyai nama maka
akan banyaklah nama kelompok, tapi bila hanya diberi satu nama saja
maka disebut Loka atau dunia yang berarti kelompok manusia,
golongan manusia.

Contoh kata-kata tersebut di dalam kalimat:

- Meletusnya perang dunia berarti kelompok-kelompok manusia
yang sedang berperang.
- Memberitahukan dunia berarti mengumumkan sesuatu hal
untuk diketahui banyak manusia.
- Persatuan Bangsa-Bangsa berarti organisasi yang didirikan oleh
berbagai macam bangsa.

Pemakaian kata-kata dunia dalam contoh kalimat di atas adalah
untuk memberikan pengertian kepada kita bahwa kata itu bukan
hanya berarti bumi saja tetapi dapat juga berarti masyarakat.
Pemakaian kata seperti ini sudah banyak kita jumpai.
Dengan berkembangnya bahasa pada zaman inidan juga untuk
kepentingan para siswa maka kata-kata di atas dapat diganti
dengan menggunakan kata publik, organisasi, pertemuan,
kelompok ataupun golongan.

3. Memperhatikan Dunia

Seperti kita ketahui dengan jelas bahwa kehidupan kita ini berkaitan
erat dengan dunia. Kita semua dilahirkan di dunia, hidup di dunia dan
menggunakan dunia ini untuk kepentingan hidup. Sanak keluarga kita
berada di dunia, agama kita berlokasi di dunia, semua harta yang kita
harapkan berada di dunia, setiap sendok makanan demi
kelangsungan hidup kita merupakan materi dari Dunia, perbuatan
baik kita akan dipuji oleh orang-orang di dunia demikian pula dengan
perbuatan jahat kita akan dicela oleh orang-orang di dunia, setelah
meninggal dunia badan jasmani kita tinggalkan di dunia.
Berdasarkan keterangan di atas maka secara singkat dapatlah kita
katakan bahwa Dunia merupakan tempat tinggal kita, oleh sebab itu
kita patut memperhatikan dunia.

4. Kebiasaan Sang Arahanta Sammasambuddha memberikan khotbah
atau mengajarkan Dhammacariya dimulai dari dasar. Hal ini sesuai
dengan yang beliau ajarkan untuk menghindari kejahatan, yang
biasa, kejahatan umum, yaitu dengan melaksanakan Pancasila.
Demikian pula halnya dalam berbuat kebaikan atau
Dhammacariya. Apa sebenarnya yang merupakan dasar permulaan
yang perlu kita lakukan dalam berbuat kebaikan atau Dhammacariya?
Jawab : Yang terlebih dahulu harus kita lakukan adalah membuat
dunia atau masyarakat menjadi damai.

Masalah hari ini adalah bagaimana caranya agar dunia ini selalu
memperoleh ketenangan, ketertiban serta kedamaian.

5. Yang melindungi Dunia
Menurut keyakinan berbagai macam agama, pengertian akan
pelindung Dunia itu bermacam-macam. Ada yang menganggap
bahwa Dewa, Dewa Catulokapala, Tuhan, Setan, Bintang, Bulan,
Naga dan lain sebagainya adalah pelindung dunia sehingga dunia
menjadi tenang, aman dan damai.Tetapi bagaimanakah kenyataannya?
Ternyata di laut, di samudera masih saja ada perompak. Di hutanhutan
masih saja ada pemburu demikian pula halnya dengan di sorga
sering terjadi perang antar para dewa.

Berdasarkan kenyataan di atas maka nampaklah kurangnya
pengertian dan adanya ketergantungan dalam menentukan
pelindung dunia. Kita umat manusia hanya dapat menanyakan pada
diri sendiri dan menjawabnya sendiri pula.

6. Dhamma Pelindung

Sang Arahanta Sammasambuddha mengajarkan kepada kita bahwa
damai atau tidaknya dunia itu tergantung kepada manusia-manusia
yang diam di dunia itu. Marilah kita renungkan terjadinya
pembunuhan yaitu adanya saling bunuh membunuh antar
manusia, perampokan di mana manusia merampok manusia lain;
penipuan yaitu manusia menipu manusia lain, keributan terjadi
karena minum minuman keras yang memabukkan dan lain
sebagainya.

Semua kejadian dan keributan di atas disebabkan oleh tingkah laku
manusia bukan disebabkan oleh setan-setan.
Oleh sebab itu kita sebagai umat manusia harus memberikan
perlindungan terhadap dunia demi memperoleh ketenangan dan
ketenteraman dunia.

Maka bagaimanapun juga setiap orang haruslah memiliki dua
Dhamma yaitu Hiri dan Ottappa untuk dijadikan dasar hati. Hiri berarti
malu akan perbuatan jahat. Ottappa berarti takut terhadap akibat
perbuatan jahat.

Para siswa diminta untuk mengerti dengan sejelas-jelasnya arti dua
Dhamma ini.

7. Hiri - Ottappa

Untuk pertama kali ini para siswa diminta untuk memperhatikan
keadaan batin yaitu Hiri yang berarti malu dan Ottappa yang berarti
takut. Apakah perbedaan antara malu dan takut?
Para siswa diminta untuk berlatih memberikan perbedaan yang jelas
antara malu dan takut. Apabila mereka dapat menjelaskan
perbedaan ini dengan baik dan jelas maka selanjutnya mereka dapat
menjelaskan Dhamma dengan baik. Dua hal tersebut di atas
merupakan hal yang abstrak (Nāmadhamma) dan mempunyai ciri-ciri
yang sangat sama.

Ciri-ciri perbedaannya dapat diumpamakan sebagai berikut:
Bila anda seorang yang agak terkenal atau ternama, pada suatu hari
berjalan di muka orang banyak dan tanpa disengaja menginjak kulit
pisang yang dibuang sembarangan. Karena licin maka anda terjatuh,
bagaimanakah perasaan anda pada saat itu? (perasaan malu
bukan?).

Kemudian anda melanjutkan perjalanan melalui sebuah hutan dan
secara tiba-tiba ada seekor macan di hadapan anda, bagaimanakah
perasaan anda pada saat itu? Apakah perasaan malu yang timbul
sama dengan perasaan malu pada waktu anda terjatuh tadi? Bukan
perasaan malu yang timbul melainkan perasaan takut.

Kalau begitu bagaimanakah perbedaan antara malu dan takut. Dalam
kitab suci komentar Itivuttaka dijelaskan bahwa Hiri dapat diibaratkan
sebagai alasan interen yaitu sesuatu yang dianggap penting yang
timbul dari dalam diri kita sendiri, misalnya diri sendiri merasa bahwa
kita seorang bhikkhu, samanera, pelajar; sedangkan Ottappa dapat
diibaratkan sebagai alasan eksteren yaitu sesuatu yang ada di luar diri
kita, misalnya adanya harimau, meja, buku dan lain-lainnya. Dengan
demikian jelaslah perbedaan alasan itu dan para siswa diminta untuk
merenungkan contoh-contohnya.

Orang jatuh yang disebabkan karena menginjak kulit pisang pada
pertama kali akan berpikir bahwa ia seorang dewasa yang dihargai
tidak pantas untuk jatuh. Pemikiran semacam ini merupakan
penjelasan alasan interen yang merupakan komentar dari guru
besar dalam Atthakatācariya.

Sedangkan orang yang terkejut dan takut melihat harimau besar yang
lapar dan galak, ia tidak memikirkan akan diri sendiri sebagai
seorang bhikkhu, samanera, pelajar melainkan memikirkan harimau
yang ada di hadapannya. Pemikiran yang seperti ini oleh guru besar
dikatakan sebagai alasan eksteren.

Biar bagaimanapun guru besar dapat mengerti secara mutlak arti
dari Hiri- Ottappa ini. Hiri berarti malu Pāpa, yaitu malu akan
perbuatan jahat. Ottappa berarti takut Pāpa yaitu takut akan akibat
perbuatan jahat.

8. Batas Manusia dan Binatang

Marilah kita bersama-sama merenungkan sedikit lagi tentang
adanya dua macam makhluk di dunia ini yaitu manusia dan binatang.
Kedua makhluk ini mempunyai instinct (naluri) yang hampir sama,
misalnya sama-sama memiliki rasa cinta, nafsu keinginan, keinginan
untuk hidup lebih lama lagi serta kemarahan dan lain sebagainya.
Semua jenis binatang pun mempunyai tindakan yang hampir sama
seperti saling membunuh, saling menyakiti, saling bersaing dan juga
saling bergaul.

Manusia merupakan suatu pengecualian karena dapat bertindak
sepantasnya. Tetapi terkadang manusia serakah, selalu ingin
berbuat namun masih membeda- bedakan mana yang patut untuk
dilakukan dan mana yang tidak patut untuk dilakukan.
Misalnya: Dalam perkawinan, berumah tangga, ada hal-hal yang
harus dihindari seperti waktu yang harus dihindari atau
pun tempat-tempat tertentu yang harus dihindari. Maka
dari itu manusia masih dapat hidup tenang dan damai.
Adanya kesadaran manusia untuk menghindari hal-hal yang tidak
pantas ini disebabkan oleh batin mereka yang berisi dengan Hiri-
Ottappa.

Oleh karena itu, dapatlah dikatakan bahwa adanya Hiri dan Ottappa
lah yang membedakan antara manusia dan binatang. Demikian pula
sebaliknya bila kedua Dhamma ini dicabut maka manusia dan
binatang tidak begitu berbeda.
Itulah perbedaan-perbedaan antara manusia dan binatang dalam hal
tindak tanduk dan kelakuan.

9. DEVADHAMMA

Terdiri dari Kata: DEVA dan DHAMMA.
Sang Arahanta Sammasambuddha amat memuji mereka yang
mempunyai Hiri-Ottappa walaupun tidak dapat menerangkannya
dengan lengkap, tapi berdasarkan pengamatan beliau di beberapa
tempat, Hiri-Ottappa ini merupakan Devadhamma yaitu sifat yang
menjadikan seseorang laksana dewa. Hal ini pernah dinyatakan
sendiri oleh Sang Tathāgata di dalam syair berikut ini:

HIRI OTTAPPA SAMPAṆṆĀ SUKKADHAMMASAMAHITA
SANTO SAPPURISĀ LOKE DEVADHAMMATI VUCCARE

artinya:

Seseorang yang mempunyai Hiri-Ottappa, bagaikan memegang
Dhamma yang putih seperti seseorang yang mempunyai
Devadhamma yang berarti mereka memiliki sifat luhur.

10. SUKKADHAMMA.

Silakan para siswa meneliti Hiri-Ottappa ini.
Sang Buddha mengatakan bahwa bila kita mempunyai
Sukkadhamma (Dhamma yang bersih) maka dapat menjadikan kita
sebagai Buddhamāmaka - Buddhamimikā yang bersih, Upasaka -
Upasika yang bersih suami yang bersih, istri yang bersih.

11. Pertanyaan-pertanyaan

Yang terakhir Kali yang patut dipikirkan adalah malu dan takut.
Maksud dan tujuan dari pelaksanaan ini adalah sebagai Dhamma
pelindung dunia.

Bila kita menemukan pertanyaan-pertanyaan seperti di bawah
ini maka bagaimanakah kita harus menjawabnya, contoh:
Tanya: Apakah cukup apabila salah satu saja yang harus kita
jalankan, sebab jika seseorang mempunyai rasa malu
maka sudah tentu orang itu tidak akan melakukan
kejahatan karena takut akan kejahatan.

Jawab: Hanya dengan menjalankan salah satu saja sudah tentu
tidaklah dapat mencukupi sebab manusia mempunyai dua
sifat dalam melakukan kejahatan, yaitu:

1. Ada yang mempunyai sifat malu tapi tidak mempunyai
sifat takut. contoh: ia adalah seseorang yang mempunyai
sifat malu, pada suatu hari ia dihina oleh orang lain yang
membuat ia menjadi malu bukan malu. Karena tidak ada
rasa takut maka ia berani membunuh orang itu yang
akhirnya ia harus dihukum mati atau dihukum seumur
hidup.

2. Ada yang mempunyai sifat takut tapi tidak mempunyai
sifat malu. contoh: ia adalah seorang pemberani dan
telah berhutang bertahun- tahun. Pada suatu hari ia
mendapat panggilan dari pengadilan, karena merasa
takut akan dipenjarakan maka barulah ia mau berunding.
Orang yang banyak berurusan dengan administrasi negara,
organisasi lainnya bila tidak mempunyai Hiri - Ottappa maka akan
menjadi orang yang susah diurus serta suka membuat keributan dan
kesalahan.

12. Cara mengembangkan Hiri - Ottappa

Di Dunia ini banyak hal-hal yang dapat merangsang nafsu indria,
yang menjadikan seseorang lupa akan Hiri - Ottappa.
Oleh sebab itu dalam Kitab Suci Komentar Itivuttaka dijelaskan
bahwa ada empat prinsip yang harus dipraktekkan untuk
mengembangkan Hiri - Ottappa, yaitu:

a. Merenungkan akan turunan

misalnya: Kita sadar bahwa kita berasal dari keturunan baik-baik
mempunyai orang tua yang berpendidikan maka kita
tidak patut untuk melakukan kejahatan.

b. Merenungkan akan usia

misalnya: Kita sadar bahwa kita sudah dewasa, cukup usia dan
telah menjadi orang tua dari anak-anak kita maka kita
tidak patut untuk melakukan kejahatan.

c. Merenungkan akan kemampuan

misalnya: Kita sadar bahwa kita adalah orang yang mempunyai
pendidikan, maka tidak patut melakukan perbuatanperbuatan
jahat seperti yang dilakukan oleh orangorang
tidak berpendidikan dan berbudi rendah.

d. Merenungkan akan pendidikan

misalnya: Kita sadar bahwa kita adalah seorang yang terpelajar,
pernah menjadi guru, dosen, pimpinan dan sebagainya
maka kita sadar bahwa kita tidak patut melakukan
kejahatan, lain halnya dengan mereka yang tidak
berpendidikan sama sekali, mereka mampu
melakukan perbuatan jahat. Tetapi ada juga mereka
yang tidak terpelajar pun masih tetap bekerja dengan
wajar.

Marilah Bermeditasi

Marilah Bermeditasi

Bagian 1: Sebab Penderitaan

Mendengarkan Ajaran Buddha agak berbeda dengan mendengarkan
uraian-uraian lain, tetapi mendengarkan Ajaran Buddha, uraian-uraian
Agama Buddha yang disebut Dhamma sebetulnya tidak
begitu mendengar lalu mengerti secara intelektual dalam bahasa jawa
secara nalar.

Tetapi mendengarkan uraian Dhamma itu seperti mendengar, kemudian
merefleksikan ke dalam. Dalam bahasa yang mudah merefleksikan itu
mencocokkan dengan kehidupannya sendiri yang dialami sendiri.
Sehingga saya sering mengatakan mendengarkan uraian Dhamma atau
uraian ajaran Buddha Gautama itu guru agung seperti bercermin.
Kalau ibu atau saudari ulang tahun, ulang tahun perkawinan ada kenalan
yang baik sekali yang dulu pernah mendapatkan jasa, pernah ditolong
datang memberikan kado gelang tretes ( berlian ) betulan bukan imitasi.

Pertanyaan saya adalah bagaimana reaksi ibu atau saudari,
Senang Apa tidak senang?
Senang….

Tidak usah dipikir karena itu saya mengatakan jangan mikir, karena kalo
mikir malah nanti jawabannya itu nanti tidak tulus.
Orang pinter biasanya… Senang apa tidak ya???
Itu kalo wanita, kalo pria mungkin mendapatkan hadiah jam dari Swiss.
Kalo anda mendapatkan kado jam dari Swiss asli, apalagi yang
memberikan teman baik yang bisa dipercaya.
Bapak atau saudara senang apa tidak senang?
Senang….

Ibu, bapak dan saudara,
Pertanyaan saya adalah kalo gelang tretes itu datang di sini, kalo jam
dari swiss itu datang di sini. Menjadi hadiah saudara.
Saudara senang apa tidak senang?
Senang Bhante…
Dimana letaknya senang itu?
Di sini….? ( sambil menunjukkan dada / hati )
Apa di sini? ( sambil menunjukkan gelang atau jam )
Dimana yang merasakan senang itu?
Di sini ( sambil menunjukkan dada / hati )

Gelang dan jam adalah benda mati. Meskipun gelang mahal bertabur
berlian dan Jam mahal. Di kedua benda itu tidak ada senang.
Di dalam bahasa yang kasar: Loh yang merasakan senang di sini koq
(sambil menunjukkan dada/ hati ) yang senangnya di sini… bukan di situ
( di gelang atau jam ).

Suatu ketika kondangan lalu gelangnya dipakai, tetapi karena sesuatu
hal waktu pulang berliannya itu copot beberapa butir. Dilihat bolong
(berlubang), entah kecantol tas (tersangkut ), entah kecantol pakaian
(tersangkut pakaian). Atau jam swiss yang mahal itu jatuh… kepijek
(terinjak) pecah.Kalo mata berliannya itu hilang, jamnya itu pecah, riek
(hancur).Ibu, bapak bagaimana reaksinya?Senang apa tidak senang?
Tidak senang Bhante…
Dimana letaknya tidak senang itu?
Letaknya tidak senang itu di jam yang riek (hancur) / gelang yang
berlubang berliannya atau di sini (sambil menunjuk dada/hati)?
Jawabannya: Di sini (sambil menunjuk dada/hati).

Oleh karena itulah menurut guru Agung Buddha Gautama, yang
membuat kita senang atau tidak senang, yang membuat kita menderita,
yang membuat kita susah. Semuanya itu muncul di dalam dan dari dalam
diri kita ini! Tidak ada sangkut pautnya yang ada
Karena kalo kita susah, sedih di sini (sambil menunjuk dada/hati). 
Kalo kita senang, gembira juga di sini ( sambil menunjuk dada/hati ).
Tidak di luar….!!!!
Tetapi kalo ibu, bapak ada yang kritis, bisa bilang. Ya Bhante sedih di
sini (sambil menunjuk dada/hati), gembira juga di sini (sambil menunjuk
dada/hati).

Tapi jalarannya kan di luar bhante. Kalo saya tidak mendapat gelang
tretes (berlian) / jam, kita kan tidak bisa ujug-ujug (tiba-tiba) senang.
Karena gelang tretes saya senang, karena jamnya rusak saya
menderita.Jalarannya kan yang di luar juga Bhante…. tidak hanya di
dalam (sambil menunjuk dada / hati).

Betul? Ibu, bapak dan saudara?

Kelihatannya betul…. tapi tidak betul.

Apa betul kalo ada gelang tretes, ada jam datang lalu kita menjadi
senang?

Iya Bhante… kalo gak ada gelang atau jam, mana bisa kita menjadi
senang.

Iya kalo gelang atau jam itu datang ke pak Budi, kalo gelang atau jam itu
datang ke pak Joni…
Pak Budi senang tidak?Tidak senang…
Loh mengapa tidak senang?
Jamnya ke sana (sambil menunjukkan ke Pak Joni), bukan ke sini
(sambil menunjukkan ke Pak Budi).
Katanya kalo ada jam atau gelang tretes senang….
Ini ada jam ada gelang tretes tapi pergi ke sana, tidak ke sini. (pergi ke
orang lain tidak ke saya ).
Saya senang atau tidak?Tidak…
Kenapa gak senang Bhante? Karena gelang dan jamnya ke situ koq
bukan ke sini.
Kenapa dia susah, sedih
Gelangnya hilang Bhante… tidak hanya berliannya yang copot tapi
hilang. Lupa naruh entah kemana. Pembantu entah siapa ambil.
Jadi yang membuat dia menderita itu apa?
Yang membuat dia menderita itu ya.. gelangnya yang hilang atau jamnya
yang riek (hancur) terinjak.
Apa betul? Kalo yang hancur itu, yang hilang itu gelangnya atau jamnya
orang lain saya tidak menderita.

Jadi Ibu Bapak dan Saudara, apa sebab yang membuat menderita ini?
Yang membuat menderita itu adalah jam-KU, gelang-KU. Itulah yang
membuat menderita. AKU. Karena kalau jamnya dia, gelangnya dia…
aku tidak menderita. Kalo jamnya atau gelang anaknya, dia ikut
menderita. Kalo jamnya atau gelangnya temannya, dia sedikit menderita.
Kalo jamnya atau gelangnya orang lain yang kita tidak kenal. Oh…. sama
sekali tidak menderita!

Mengapa? Karena bukan jam-KU, bukan gelang-KU, bukan jamnya
anak-KU, bukan gelangnya anak-KU. Gelang dan jamnya milik orang
lain, Aku tidak kenal, maka tidak menderita.

Berhati-hatilah dengan AKU Ibu, Bapak dan Saudara.Itu yang membuat
kita menderita. Mengapa bisa menderita Bhante? Karena terlalu
lengketnya, terlalu senangnya, terlalu besarnya AKUnya, maka dia
menderita. Berharga, mahal, milyaran, tetapi barang yang sama yang
berharga, mahal, milyaran. Kalo ini rusak tetapi bukan milik-KU. AKU
tidak apa-apa. Tenang. Tentram. Jadi sang AKU-lah.
Apa yang saya sampaikan ini adalah The Fact of Life. The Truth of Life.
Kesunyataan Hidup. Saudara tidak perlu mendengar uraian saya, lalu
meng-iya-kan, tetapi saudara bisa mencocokkan apa yang saudara
pernah alami ibu, bapak sekalian dalam kehidupan sehari-hari. Benar
atau tidak?

Ibu, Bapak dan Ssaudara jangan sepelekan AKU. Ada orang
mengatakan. Ah, Bhante, AKU kan bukan kejahatan toh, paling kalo
AKU-nya besar itu hanya akan dikatakan: Orang koq sombong-sombong
banget. Arogan. Paling kan hanya dikatakan begitu, kan, Bhante.
Kalo ada upacara pasti ingin minta duduk di depan. Kalo suatu ketika
yang terima tamu tidak mengerti lalu didudukkan di belakang sana. AKU
di suruh duduk di belakang sana?

AKU ini, jasaku ini tidak dihargai. Itu orang tidak tahu AKU ini siapa?
Saya pernah diberitahu seorang Bhikkhu, Oh, dia bukan pemimpin,
Bhante. Kalo orang seperti itu adalah pemuka bukan pemimpin. Koq
bisa? Dia ingin duduk di muka, kelihatan di muka. Oh beda ya, pemuka
sama pemimpin.

Oh ya… beda, Bhante… (joke)
Jangan Meremehkan ke-AKU-an Ibu, Bapak dan Saudara. Ke-AKU-an
punya anak. Anaknya ke-AKU-an adalah: Kalo dia senang. AKU ingin
senang lagi. AKU ingin senang terus. AKU ingin senang yang lebih
banyak.*KESERAKAHAN (Anaknya ke-AKU-an itu keserakahan). Kalo
dia untung, AKU ingin untung terus.
AKU gak mau rugi.
Tidak ada pedagang yang mau rugi.
AKU ingin sukses terus.
AKU ingin sehat terus.
Kalo sudah tua, AKU ingin tua terus.
Loh koq bisa bhante? Siapa yang ingin mati? Kalo sudah terlanjur tua
kan, AKU ingin tua terus.
(Itu KESERAKAHAN) Thamsim.
Dan kalo tidak senang...

**KEBENCIAN muncul pada saat keserakahan tidak mendapatkan
pemenuhan. Tetapi kalo kesenangannya mendapatkan pemenuhan…
Oh.. KESERAKAHAN-nya membara-bara.(Joke)

Saya pernah bertemu dengan seorang pejabat. Dia ingin mencalonkan
dirinya lagi, dia ingin menjabat lagi.
Pak, apa bapak menjabat itu enak toh?
Ya, Bhante enaknya cuma 10%.
Oh, begitu. Loh yang 90% pak?
Yang 90% enak banget, Bhante. (Peserta Dhamma Class meledak
tertawa).

Oh makanya kepingin lagi menjabat. Saya pikir enaknya hanya 10%
yang 90% tidak enak.

Ternyata yang 10% enak.. dan yang 90% enak banget.
Nanti kalo gagal bagaimana?

Kalo gagal dia bisa kecewa, jengkel, bisa-bisa marah.
Tidak senang pada yang maju… Tidak senang pada yang berhasil..
Itu anaknya KEBENCIAN…

Jadi sang AKU punya anak KEBENCIAN dan KEBENCIAN punya anak
“SENANG MELIHAT ORANG LAIN GAGAL / MEMBALAS DENDAM”
Anaknya KESERAKAHAN apa? Anaknya KESERAKAHAN ” IRI HATI /
TIDAK SENANG MELIHAT ORANG LAIN SUKSES”

Itu semua adalah keturunan AKU.
Sang AKU mempunyai anak ingin… ingin.. ingin… lagi.. lagi.. lagi..
(KESERAKAHAN), terhalang marah maka kebencian muncul... kekejian
muncul... kejahatan muncul.

Semuanya lahir dari sang AKU. Sang AKU mempunyai anak.. beranak–
pinak.. (berkembang biak) melahirkan kejahatan-kejahatan.
Ibu, Bapak dan Saudara…. Ibu Bapak bisa memahami ya... yang saya
uraikan..
Sang AKU sangat berbahaya dan sebab penderitaan itu adalah sang
AKU.

Tidak ada sangkut-pautnya dengan yang di luar sama sekali!!!
Apapun yang di luar terjadi jungkir-terbalik, kalo sang pikiran (AKU-nya)
terkendali… Anda tidak perlu mender 

Bhante, saya mendengar penderitaan itu... terjadi karena karma-karma
buruk berbuah. Dulu kita melakukan / berbuat yang buruk-buruk...
melakukan karma buruk... lalu berbuah... buahnya karma buruk katanya
penderitaan. Buah karma baik katanya kebahagiaan.

Jadi penderitaan itu bukan akibat dari perbuatan yang buruk atau akibat
karma yang buruk, Bhante?
BUKAN… Saudara…
Saudara yang sudah menjadi umat Buddha sudah lama, pernah
mendengar toh?

Empat Kesunyataan Mulia:
1. Ada Dukkha
2. Apakah Sebabnya Dukkha? Apakah sebabnya dukha disebut akibat
karma buruk berbuah, maka membuat kita menderita (Dukkha).
TIDAK….

Sebabnya dukkha adalah Tanha. Apakah Tanha itu? KEINGINAN yang
luar biasa.
Darimana datangnya Tanha... sang AKU. Sang AKU ingin lagi... ingin
lagi... ingin lagi…

Kalo tidak senang ingin menghancurkan...ingin menyingkirkan terus..
terus.. terus.. sampai tidak menghalangi AKU lagi.

Jadi, Bhante, kalo perbuatan buruk / karma buruk kita berbuah, itu kita
tidak menderita?

Terserah Saudara.. Saudara mau menderita atau tidak menderita!!!
Jadi kalo karma buruk kita berbuah, apa kita mesti menderita,
Bhante? TIDAK…

Tergantung pada kita. Pada yang di dalam ini… mau menderita atau
tidak… tergantung yang di dalam. Tidak tergantung akibat yang muncul.
Dari cerita ini lagi… Ibu Bapak bisa melihat. Tidak ada hubungannya
kesusahan, ketegangan, penderitaan itu dengan yang di luar ini. Tidak
ada sangkut-pautnya!!!

Susah, menderita, sengsara itu karena ” KITA SENDIRI SEPENUHPENUHNYA”
Karena apa, Bhante?
Karena sang AKU kita biarkan…
Jangan main-main dengan sang AKU... bukan masalah persoalan
sombong-sombing saja.
Berbahaya... ia menjadi biang penderitaan…

Bagian 2 : Hubungan antara Pikiran, Perasaan dan Jasmani
Saudara... Kalo Saudara punya anak di Amerika, di LA atau di New
York? Atau di Jerman, saya tidak ingin menggunakan contoh Amerika.
Sebab nanti kalo pas ada yang punya anak di Amerika, nanti janganjangan
Bhante ini meramal.

Malam-malam anda mendapatkan telepon.
Pak… Bu… setengah jam yang lalu anak Bapak masuk ICU, tabrakan,
gak sadar sekarang…

Selama Anda mencari atau mengurus visa, pasport, mencari karcis, naik
pesawat 20 jam… 22 jam…

Bagaimana pikiran kita ini sebagai orang tua?
Was-was.. gelisah.. khawatir.. berkembang biak (di pikiran).
Kalo ibu mendengar, bapak mendengar anak ditabrak
(kecelakaan),koma, masuk ICU… Jauh….
Timbul gelisah khawatir…

Iki mengko kepiye…. sopo sing nulung (ini nanti bagaimana.. siapa yang
menolong), bisa sembuh tidak, yang nokoke Pien Zehuang sopo iki
engko (yang beliin Pien Zehuang siapa ini nanti).

Pertanyaan saya…
Ibu Bapak senang apa susah?
Susah…. (gak usah mikir-mikir itu jawabannya), siapa yang senang
anaknya di ICU….
Pikiran itu Ibu Bapak.. Sangat cepat dan sangat kuat sangat
mempengaruhi perasaan…. (tolong ini diingat-ingat, nanti ada contoh
lagi).
Kalo perasaan Ibu Bapak susah, karena pikiran gelisah, membayangkan
anaknya, was-was.. khawatir..

Pikiran dengan cepat mempengaruhi perasaan, perasaannya susah.
Kalo Ibu susah seperti itu, apakah makan rasanya enak?
Tidak enak… Kesukaannya apa toh dia? Soto.. cepat-cepatlah beliin
soto.. Sotonya datang, dilihat saja..

Lain persoalan kalo anaknya yang ada di Jepang telepon, setelah kuliah
menghabiskan uang bertahun-tahun..
Mah… hari ini aku lulus. Tenan iki mah, gak ngapusi (benar ini mah gak
bohong).

Nanti hasilnya saya faks….
Lalu… Ibu Bapak.. Aduh anakku lulus… (Pikirannya bereaksi anaknya
lulus, sukses, kewajiban sebagai orang tua satu langkah selesai).
Pikiran mempengaruhi perasaan…
Perasaan Ibu Bapak bagaimana? Senang apa tidak senang anaknya
lulus?

Senang… cepat sekali itu, Pikiran mempengaruhi perasaan itu cepat
sekali.

Sangat cepat dan sangat kuat….
Ini bukan hanya ajaran Buddha Ibu Bapak dan saudara.. Ibu Bapak
cocokkan sendiri pengalaman sendiri.
Berpuluh-puluh tahun… betul tidak?
Pikiran sangat berpengaruh terhadap perasaan, perasaan sangat
berpengaruh terhadap jasmani.
Oh… Bhante, kalo begitu ya,Bhante.. Kalo pikiran ini bisa di-
KENDALIKAN, TEGUH, KUAT. Aduh,Bhante, bagus sekali ya….?
Memang…

Kalo pikiran kita tidak labil, tidak mudah terombang-ambing oleh berita
apapun, cerita apapun… Pikiran saya bisa kuat, teguh, tenang, kan
bagus kan,Bhante???
Bagus… sangat bagus…
Perasaan tidak mudah terpengaruh.
Kalo perasaan tidak terpengaruh… jasmani tidak terpengaruh…
Tapi bagaimana,Bhante? Meneguhkan pikiran… Menenangkan pikiran
ini bagaimana?
Sulit Saudara…

Pikiran itu LICIN… LIHAY… HALUS… TIDAK BISA DIRABA.. TIDAK
BISA DIDETEKSI.. BERGERAK SEENAK-ENAKNYA SENDIRI..
Lalu bagaimana, Bhante… Bagaimana membuat pikiran ini Teguh…
Kuat…

Sebab kalo pikiran tidak teguh tidak kuat… Aduh... terombang-ambing.
Perasaan kita terombang-ambing, susah-senang, sedih-gembira,
kecewa, lalu sedih lagi. Dan itu merusak jasmani kita, mempengaruhi
jasmani kita.

Jadi pikiran itu harus dibuat kuat, teguh, tenang.. caranya bagaimana,
Bhante?

Ibu Bapak dan Saudara caranya….
DIBALIK………….
Karena PIKIRAN MEMPENGARUHI PERASAAN DAN PERASAAN
MEMPENGARUHI JASMANI, maka sekarang jasmaninya ditoto
(ditata atau dikondisikan).Karena kalo jasmaninya ditoto
(ditata/dikondisikan), perasaan juga ikut noto (tertata/terkondisi), dan
perasaan itu sudah noto (sudah tertata/terkondisi) maka pikiran menjadi
tenang.

Bisa dipahami Ibu Bapak?

Bagian 3: Cara Menata Jasmani

Nah sekarang Chapter ketiga, Noto (menata atau mengkondisikan)
jasmani bagaimana, Bhante?

Apa kalo rambut sudah putih terus disemir, kalo hidung bengkok terus
di… katanya sekarang ada yang ditarik-tarik (operasi plastik) saya tidak
tahu. Bagaimana apa jalannya juga harus pelan-pelan seperti macan
kelaparan?

Tidak…..
Noto (menata/mengkondisikan) menurut pandangan Dhamma adalah
“MEDITASI”. Loh, Bhante, koq meditasi ada hubungannya dengan
jasmani?Iya, karena yang paling gampang itu meditasi yang
dihubungkan dengan jasmani. Tidak dengan perasaan dulu atau pikiran.
Caranya bagaimana, Bhante? Memperhatikan jasmaninya sendiri.
Gimana, Bhante? Apa dingiling-ngilingi terus? (Apa dilihat-lihat terus?)
(Bhante Pannavaro sambil mempraktekkan melihat-lihat tangannya
sendiri).

Tidak…

Yang diperhatikan nafasnya sendiri.
Masuk…. Keluar… Masuk… Keluar…, duduk dengan tenang.

Tidak usah duduk sila…. duduk di kursi juga boleh. (Tangan rileks tidak
menyandar).

Masuk… Keluar… Masuk… Keluar…

Hanya begitu, Bhante?

Hanya begitu Saudara….

Ada doa-doa? Tidak ada.

Ada lilin dupa? Tidak ada.

Ada patung Buddha? Tidak perlu.

Baca Paritta? Tidak perlu.

Jadi hanya begitu,Bhante?

Ya.. Hanya begitu Ibu Bapak Saudara.

Menenangkan jasmani, membuat kondisi jasmani kita tenang. Kalau
jasmaninya dikondisikan begitu, jasmani akan mengkondisikan
perasaan. Perasaannya tidak mulak-mulak (tidak terombang-ambing /
berguncang-guncang). Kalau perasaannya tenang, maka pikirannyapun
menjadi tenang.

Sehari berapa kali, Bhante?

Satu kali gak usah dua kali, lebih bagus.

Optimal bagi yang berkeluarga 1/2 jam lebih boleh…

Mulai dari 10 menit dulu… 15 menit… 20 menit dan seterusnya.
Gak sempat, Bhante?

Hah, gak sempat? Makan sempat.. ke wc sempat.. tidur sempat.. mati
juga nanti sempat.

Meditasi 1/2 jam sehari tidak sempat? (Bhante Pannavaro sambil
menggeleng-gelengkan kepala).

Sangat berharga…..
Gak usah rapal, gak usah mantra, gak usah doa, gak usah nyebut
Buddha atau yang lain, tidak usah bersila di kursi boleh, tidak usah ada
ubo rampe (persembahan) dupa lilin. TIDAK ADA ONGKOS
SAUDARA….. Murah sekali!

Kalo saudara mau beramal berdana, harus punya modal…..
Saudara mau berdana apa?

Saya mau menyumbang makanan.
Kalau saudara gak punya makanan yang mau diberikan apa? Saudara
harus punya makanan dulu.

Anda mau nyumbang obat. Anda harus punya obat dulu, baru bisa
memberikan obat.

Aku mau berdana tenaga saja. Ya Anda harus punya tenaga, baru bisa
membantu tenaga.

Kalau anda sakit dan berbaring di rumah sakit bagaimana mau
menyumbang tenaga.

Aku ingin menyumbang berdana nasehat. Anda harus punya
pengetahuan baru bisa memberi nasehat.
Kalau meditasi?

ANDA TIDAK PERLU PUNYA APA-APA…..!
Jasmani akan sangat mempengaruhi perasaan.
Perasaan-perasaan akan menjadi tenang… tenang…
Yang semula senang banget.. yang semula sedih banget…
Kalo sekarang perhatian kita memperhatikan nafas…
Perasaan itu meskipun untuk sementara dia akan turun.
Apa betul, Bhante, jasmani itu sangat mempengaruhi perasaan?

Sangat betul Saudara…..
Kalau Saudara suatu ketika merasa sesak… Aduh sesak aku... (karena
sedih ataupun marah), susah… aku… karena macam-macam masalah.
Tidak ada jalan keluar, belum bisa diselesaikan. Untuk meringankan
sementara sesaknya itu bagaimana Saudara?
UNJAL AMBEKAN (TARIK NAPAS)
Rileks….

Meskipun hanya sebentar…
Itu suatu bukti kalo fisik ini ditenangkan, emosi menjadi rileks. Kalau
perasaan terkondisi, maka pikiran akan menjadi tenang. Nah, sekarang
ikuti penjelasan yang lain, tetapi tetap ada hubungannya dengan
uraiannya ini.

Bagian 4: Meditasi

Tadi Bhante mengatakan kalau pikiran mendapatkan reaksi, anaknya
sakit, anaknya masuk ICU, Suaminya tidak pulang atau anaknya lulus
ujian, atau mendapatkan keuntungan yang besar.
Reaksi pikiran cepat sekali mempengaruhi perasaan.
Cepat sekali… Kuat sekali…

Perasaannya menjadi senang atau tidak senang, suka atau sedih.
Benar…
Tetapi sebaliknya. Perasaan juga mempengaruhi pikiran. Kalau
perasaannya tenang. Pikirannya tenang.

Kalau perasaannya berkobar-kobar. Pikirannya juga berkobar-kobar.
Saya ingin memberikan contoh-contoh…

JUSTRU PENGARUH PERASAAN ITU KUAT SEKALI TERHADAP
PIKIRAN!
Apa saja gerak-gerik kita sehari-hari, yang kecil-kecil sekalipun. Apa
yang mendorong?
YANG MENDORONG PERASAAN….

Sekarang sudah jam delapan seperempat, saya bicara satu jam lebih.
Dan selama satu jam seperempat kira-kira… atau satu jam lebih.Saya
duduk tidak menyandar….
Apa yang dirasakan,Bhante?
Pegal….
Bhante senang apa tidak senang?
Tidak senang…
Perasaan tidak senang ini memerintahkan pada pikiran,

Nyendero-nyendero ( menyandarlah-menyandarlah ). Nanti kalo
waktunya tanya jawab menyandarlah…..
Waktu saya menyandar….
Apa yang timbul?
Enak… ( suka )
Enak ( suka ) lalu memerintahkan pada pikiran….
Menyandarlah terus….

Siapa yang memerintahkan pikiran?
PERASAAN………..
Kalo umat Buddha yang sudah lama, mengerti manusia itu kan 
Khanda (PANCA KHANDHA) toh…

1. Yang kasar namanya JASMANI

2. PERASAAN ( VEDANA ).

Menurut pengertian Dhamma perasaan ini bisanya senang – tidak
senang. Rasa asin, rasa asam itu pikiran dalam agama Buddha. Rasa
malu, rasa sedih itu pikiran…

Perasaan dalam pengertian psikologis buddhist hanya SUKA atau
TIDAK SUKA ( Senang atau Tidak Senang ), di tambah NETRAL ( ya
netral boleh diabaikan – Suka tidak… tidak suka juga tidak ).

3. INGATAN (SANNA/SANYA)

4.PIKIRAN ( SANKARA ).

Yang punya rencana, cita-cita, segala macam ingat yang lalu, mau
begini mau begitu. Katanya orang pikiran ini tidak terbatas, dari jaman
primitif sampai sekarang lalu kemudian
berkembang lagi.. batasnya tidak tahu pikiran ini.. Hebat sekali…

5. KESADARAN

JUSTRU YANG BERBAHAYA BUKAN SANKARA (PIKIRAN). YANG
BERBAHAYA VEDANA (PERASAAN).
Karena perasaan itu yang menjadi provokator… Dia memprovokasi
pikiran kita!

Apa saja Ibu Bapak boleh saja mencocokkan sendiri.
Saya lihat orang itu tadi duduknya sangat tenang. Setelah agak lama
satu jam lebih, koq dia mulai goyang-goyang (gelisah).
Kenapa?

Pikirannya menyuruh bergoyang-goyang…
Mengapa pikirannya menyuruh bergoyang-goyang?
Karena perasaannya kalo duduk tegap terus rasanya tegang dan TIDAK
SUKA, koq, Bhante ceramah belum berhenti-berhenti…..
Lalu perasaannya membujuk pikiran

EH PIKIRAN…. ITULOH… DUDUKNYA AGAK GOYANG-GOYANG,
BIAR GAK SAKIT… BIAR ENAK…

Itu, perasaan, yang menjadi biang keladinya. Dia yang memprovokasi,
dia yang menghasut segala macam.

Kalau senang, dia menghasut pikiran…. lagi… lagi… lagi…
Kalau tidak senang, dia menghasut pada pikiran…. singkirkan…
singkirkan… singkirkan…

Dia jalan lihat di rumah tetangganya, ada mangga bagus-bagus jatuh.
Melihat itu, perasaan langsung bereaksi. Lihat mangga.
SENANG…

Lalu perasaan memerintahkan pikiran…. Ambil…. Ambil… Ambil…

Pikiran: Tapi kan kepunyaan orang, apa gak mencuri?
Kalau gak disimpan pemiliknya kamu kan tidak mencuri, kan di situ
tergeletak. Ambilah, tidak apa-apa.

Pikiran begitu ramai, berdebat-debat terus. Lalu, ambil.
Tapi ambil, dipukulin orang satu kampung, karena loncat pagar.
Dipukulin enak atau tidak enak? ( Suka atau tidak suka? )
Tidak enak ( Tidak Suka ).
Suka atau Tidak Suka?
Tidak suka… wah.. sakit semua…

Suatu hari dia lihat mangga yang jatuh lagi… lebih banyak.
Sekarang perasaannya lain….
Sakit loh nanti… sakit loh nanti… dipukulin.
Ingatan akan yang sakit dan perasaan tidak suka karena di pukulin itu
memerintahkan pikiran:
Jangan ambil… Jangan ambil… Jangan ambil…
Mungkin pikiran masih membantah, tapi kemarin kan banyak orang.
Sekarang ‘kan tidak ada orang…

Ya, nanti kalau kamu sudah meloncat, trus orangnya datang nanti
kamu mau lari kemana?
Ya, nanti saya bilang. Ini nanti saya mau beresin supaya gak
berantakan taruh di pojok…
Oh… Pikiran ini LIHAY sekali…..
Tetapi, pemicu / penyulut api pertamanya adalah…
PERASAAN
Tapi bagaimana, Bhante, supaya perasaan tidak menjadi penghasut?

CARANYA:

JASMANI HARUS DIKONDISIKAN,
KALAU JASMANI DIKONDISIKAN,
MAKA PERASAAN AKAN TERKONDISI TENANG.