Sunday, October 13, 2019

Marilah Bermeditasi

Marilah Bermeditasi

Bagian 1: Sebab Penderitaan

Mendengarkan Ajaran Buddha agak berbeda dengan mendengarkan
uraian-uraian lain, tetapi mendengarkan Ajaran Buddha, uraian-uraian
Agama Buddha yang disebut Dhamma sebetulnya tidak
begitu mendengar lalu mengerti secara intelektual dalam bahasa jawa
secara nalar.

Tetapi mendengarkan uraian Dhamma itu seperti mendengar, kemudian
merefleksikan ke dalam. Dalam bahasa yang mudah merefleksikan itu
mencocokkan dengan kehidupannya sendiri yang dialami sendiri.
Sehingga saya sering mengatakan mendengarkan uraian Dhamma atau
uraian ajaran Buddha Gautama itu guru agung seperti bercermin.
Kalau ibu atau saudari ulang tahun, ulang tahun perkawinan ada kenalan
yang baik sekali yang dulu pernah mendapatkan jasa, pernah ditolong
datang memberikan kado gelang tretes ( berlian ) betulan bukan imitasi.

Pertanyaan saya adalah bagaimana reaksi ibu atau saudari,
Senang Apa tidak senang?
Senang….

Tidak usah dipikir karena itu saya mengatakan jangan mikir, karena kalo
mikir malah nanti jawabannya itu nanti tidak tulus.
Orang pinter biasanya… Senang apa tidak ya???
Itu kalo wanita, kalo pria mungkin mendapatkan hadiah jam dari Swiss.
Kalo anda mendapatkan kado jam dari Swiss asli, apalagi yang
memberikan teman baik yang bisa dipercaya.
Bapak atau saudara senang apa tidak senang?
Senang….

Ibu, bapak dan saudara,
Pertanyaan saya adalah kalo gelang tretes itu datang di sini, kalo jam
dari swiss itu datang di sini. Menjadi hadiah saudara.
Saudara senang apa tidak senang?
Senang Bhante…
Dimana letaknya senang itu?
Di sini….? ( sambil menunjukkan dada / hati )
Apa di sini? ( sambil menunjukkan gelang atau jam )
Dimana yang merasakan senang itu?
Di sini ( sambil menunjukkan dada / hati )

Gelang dan jam adalah benda mati. Meskipun gelang mahal bertabur
berlian dan Jam mahal. Di kedua benda itu tidak ada senang.
Di dalam bahasa yang kasar: Loh yang merasakan senang di sini koq
(sambil menunjukkan dada/ hati ) yang senangnya di sini… bukan di situ
( di gelang atau jam ).

Suatu ketika kondangan lalu gelangnya dipakai, tetapi karena sesuatu
hal waktu pulang berliannya itu copot beberapa butir. Dilihat bolong
(berlubang), entah kecantol tas (tersangkut ), entah kecantol pakaian
(tersangkut pakaian). Atau jam swiss yang mahal itu jatuh… kepijek
(terinjak) pecah.Kalo mata berliannya itu hilang, jamnya itu pecah, riek
(hancur).Ibu, bapak bagaimana reaksinya?Senang apa tidak senang?
Tidak senang Bhante…
Dimana letaknya tidak senang itu?
Letaknya tidak senang itu di jam yang riek (hancur) / gelang yang
berlubang berliannya atau di sini (sambil menunjuk dada/hati)?
Jawabannya: Di sini (sambil menunjuk dada/hati).

Oleh karena itulah menurut guru Agung Buddha Gautama, yang
membuat kita senang atau tidak senang, yang membuat kita menderita,
yang membuat kita susah. Semuanya itu muncul di dalam dan dari dalam
diri kita ini! Tidak ada sangkut pautnya yang ada
Karena kalo kita susah, sedih di sini (sambil menunjuk dada/hati). 
Kalo kita senang, gembira juga di sini ( sambil menunjuk dada/hati ).
Tidak di luar….!!!!
Tetapi kalo ibu, bapak ada yang kritis, bisa bilang. Ya Bhante sedih di
sini (sambil menunjuk dada/hati), gembira juga di sini (sambil menunjuk
dada/hati).

Tapi jalarannya kan di luar bhante. Kalo saya tidak mendapat gelang
tretes (berlian) / jam, kita kan tidak bisa ujug-ujug (tiba-tiba) senang.
Karena gelang tretes saya senang, karena jamnya rusak saya
menderita.Jalarannya kan yang di luar juga Bhante…. tidak hanya di
dalam (sambil menunjuk dada / hati).

Betul? Ibu, bapak dan saudara?

Kelihatannya betul…. tapi tidak betul.

Apa betul kalo ada gelang tretes, ada jam datang lalu kita menjadi
senang?

Iya Bhante… kalo gak ada gelang atau jam, mana bisa kita menjadi
senang.

Iya kalo gelang atau jam itu datang ke pak Budi, kalo gelang atau jam itu
datang ke pak Joni…
Pak Budi senang tidak?Tidak senang…
Loh mengapa tidak senang?
Jamnya ke sana (sambil menunjukkan ke Pak Joni), bukan ke sini
(sambil menunjukkan ke Pak Budi).
Katanya kalo ada jam atau gelang tretes senang….
Ini ada jam ada gelang tretes tapi pergi ke sana, tidak ke sini. (pergi ke
orang lain tidak ke saya ).
Saya senang atau tidak?Tidak…
Kenapa gak senang Bhante? Karena gelang dan jamnya ke situ koq
bukan ke sini.
Kenapa dia susah, sedih
Gelangnya hilang Bhante… tidak hanya berliannya yang copot tapi
hilang. Lupa naruh entah kemana. Pembantu entah siapa ambil.
Jadi yang membuat dia menderita itu apa?
Yang membuat dia menderita itu ya.. gelangnya yang hilang atau jamnya
yang riek (hancur) terinjak.
Apa betul? Kalo yang hancur itu, yang hilang itu gelangnya atau jamnya
orang lain saya tidak menderita.

Jadi Ibu Bapak dan Saudara, apa sebab yang membuat menderita ini?
Yang membuat menderita itu adalah jam-KU, gelang-KU. Itulah yang
membuat menderita. AKU. Karena kalau jamnya dia, gelangnya dia…
aku tidak menderita. Kalo jamnya atau gelang anaknya, dia ikut
menderita. Kalo jamnya atau gelangnya temannya, dia sedikit menderita.
Kalo jamnya atau gelangnya orang lain yang kita tidak kenal. Oh…. sama
sekali tidak menderita!

Mengapa? Karena bukan jam-KU, bukan gelang-KU, bukan jamnya
anak-KU, bukan gelangnya anak-KU. Gelang dan jamnya milik orang
lain, Aku tidak kenal, maka tidak menderita.

Berhati-hatilah dengan AKU Ibu, Bapak dan Saudara.Itu yang membuat
kita menderita. Mengapa bisa menderita Bhante? Karena terlalu
lengketnya, terlalu senangnya, terlalu besarnya AKUnya, maka dia
menderita. Berharga, mahal, milyaran, tetapi barang yang sama yang
berharga, mahal, milyaran. Kalo ini rusak tetapi bukan milik-KU. AKU
tidak apa-apa. Tenang. Tentram. Jadi sang AKU-lah.
Apa yang saya sampaikan ini adalah The Fact of Life. The Truth of Life.
Kesunyataan Hidup. Saudara tidak perlu mendengar uraian saya, lalu
meng-iya-kan, tetapi saudara bisa mencocokkan apa yang saudara
pernah alami ibu, bapak sekalian dalam kehidupan sehari-hari. Benar
atau tidak?

Ibu, Bapak dan Ssaudara jangan sepelekan AKU. Ada orang
mengatakan. Ah, Bhante, AKU kan bukan kejahatan toh, paling kalo
AKU-nya besar itu hanya akan dikatakan: Orang koq sombong-sombong
banget. Arogan. Paling kan hanya dikatakan begitu, kan, Bhante.
Kalo ada upacara pasti ingin minta duduk di depan. Kalo suatu ketika
yang terima tamu tidak mengerti lalu didudukkan di belakang sana. AKU
di suruh duduk di belakang sana?

AKU ini, jasaku ini tidak dihargai. Itu orang tidak tahu AKU ini siapa?
Saya pernah diberitahu seorang Bhikkhu, Oh, dia bukan pemimpin,
Bhante. Kalo orang seperti itu adalah pemuka bukan pemimpin. Koq
bisa? Dia ingin duduk di muka, kelihatan di muka. Oh beda ya, pemuka
sama pemimpin.

Oh ya… beda, Bhante… (joke)
Jangan Meremehkan ke-AKU-an Ibu, Bapak dan Saudara. Ke-AKU-an
punya anak. Anaknya ke-AKU-an adalah: Kalo dia senang. AKU ingin
senang lagi. AKU ingin senang terus. AKU ingin senang yang lebih
banyak.*KESERAKAHAN (Anaknya ke-AKU-an itu keserakahan). Kalo
dia untung, AKU ingin untung terus.
AKU gak mau rugi.
Tidak ada pedagang yang mau rugi.
AKU ingin sukses terus.
AKU ingin sehat terus.
Kalo sudah tua, AKU ingin tua terus.
Loh koq bisa bhante? Siapa yang ingin mati? Kalo sudah terlanjur tua
kan, AKU ingin tua terus.
(Itu KESERAKAHAN) Thamsim.
Dan kalo tidak senang...

**KEBENCIAN muncul pada saat keserakahan tidak mendapatkan
pemenuhan. Tetapi kalo kesenangannya mendapatkan pemenuhan…
Oh.. KESERAKAHAN-nya membara-bara.(Joke)

Saya pernah bertemu dengan seorang pejabat. Dia ingin mencalonkan
dirinya lagi, dia ingin menjabat lagi.
Pak, apa bapak menjabat itu enak toh?
Ya, Bhante enaknya cuma 10%.
Oh, begitu. Loh yang 90% pak?
Yang 90% enak banget, Bhante. (Peserta Dhamma Class meledak
tertawa).

Oh makanya kepingin lagi menjabat. Saya pikir enaknya hanya 10%
yang 90% tidak enak.

Ternyata yang 10% enak.. dan yang 90% enak banget.
Nanti kalo gagal bagaimana?

Kalo gagal dia bisa kecewa, jengkel, bisa-bisa marah.
Tidak senang pada yang maju… Tidak senang pada yang berhasil..
Itu anaknya KEBENCIAN…

Jadi sang AKU punya anak KEBENCIAN dan KEBENCIAN punya anak
“SENANG MELIHAT ORANG LAIN GAGAL / MEMBALAS DENDAM”
Anaknya KESERAKAHAN apa? Anaknya KESERAKAHAN ” IRI HATI /
TIDAK SENANG MELIHAT ORANG LAIN SUKSES”

Itu semua adalah keturunan AKU.
Sang AKU mempunyai anak ingin… ingin.. ingin… lagi.. lagi.. lagi..
(KESERAKAHAN), terhalang marah maka kebencian muncul... kekejian
muncul... kejahatan muncul.

Semuanya lahir dari sang AKU. Sang AKU mempunyai anak.. beranak–
pinak.. (berkembang biak) melahirkan kejahatan-kejahatan.
Ibu, Bapak dan Saudara…. Ibu Bapak bisa memahami ya... yang saya
uraikan..
Sang AKU sangat berbahaya dan sebab penderitaan itu adalah sang
AKU.

Tidak ada sangkut-pautnya dengan yang di luar sama sekali!!!
Apapun yang di luar terjadi jungkir-terbalik, kalo sang pikiran (AKU-nya)
terkendali… Anda tidak perlu mender 

Bhante, saya mendengar penderitaan itu... terjadi karena karma-karma
buruk berbuah. Dulu kita melakukan / berbuat yang buruk-buruk...
melakukan karma buruk... lalu berbuah... buahnya karma buruk katanya
penderitaan. Buah karma baik katanya kebahagiaan.

Jadi penderitaan itu bukan akibat dari perbuatan yang buruk atau akibat
karma yang buruk, Bhante?
BUKAN… Saudara…
Saudara yang sudah menjadi umat Buddha sudah lama, pernah
mendengar toh?

Empat Kesunyataan Mulia:
1. Ada Dukkha
2. Apakah Sebabnya Dukkha? Apakah sebabnya dukha disebut akibat
karma buruk berbuah, maka membuat kita menderita (Dukkha).
TIDAK….

Sebabnya dukkha adalah Tanha. Apakah Tanha itu? KEINGINAN yang
luar biasa.
Darimana datangnya Tanha... sang AKU. Sang AKU ingin lagi... ingin
lagi... ingin lagi…

Kalo tidak senang ingin menghancurkan...ingin menyingkirkan terus..
terus.. terus.. sampai tidak menghalangi AKU lagi.

Jadi, Bhante, kalo perbuatan buruk / karma buruk kita berbuah, itu kita
tidak menderita?

Terserah Saudara.. Saudara mau menderita atau tidak menderita!!!
Jadi kalo karma buruk kita berbuah, apa kita mesti menderita,
Bhante? TIDAK…

Tergantung pada kita. Pada yang di dalam ini… mau menderita atau
tidak… tergantung yang di dalam. Tidak tergantung akibat yang muncul.
Dari cerita ini lagi… Ibu Bapak bisa melihat. Tidak ada hubungannya
kesusahan, ketegangan, penderitaan itu dengan yang di luar ini. Tidak
ada sangkut-pautnya!!!

Susah, menderita, sengsara itu karena ” KITA SENDIRI SEPENUHPENUHNYA”
Karena apa, Bhante?
Karena sang AKU kita biarkan…
Jangan main-main dengan sang AKU... bukan masalah persoalan
sombong-sombing saja.
Berbahaya... ia menjadi biang penderitaan…

Bagian 2 : Hubungan antara Pikiran, Perasaan dan Jasmani
Saudara... Kalo Saudara punya anak di Amerika, di LA atau di New
York? Atau di Jerman, saya tidak ingin menggunakan contoh Amerika.
Sebab nanti kalo pas ada yang punya anak di Amerika, nanti janganjangan
Bhante ini meramal.

Malam-malam anda mendapatkan telepon.
Pak… Bu… setengah jam yang lalu anak Bapak masuk ICU, tabrakan,
gak sadar sekarang…

Selama Anda mencari atau mengurus visa, pasport, mencari karcis, naik
pesawat 20 jam… 22 jam…

Bagaimana pikiran kita ini sebagai orang tua?
Was-was.. gelisah.. khawatir.. berkembang biak (di pikiran).
Kalo ibu mendengar, bapak mendengar anak ditabrak
(kecelakaan),koma, masuk ICU… Jauh….
Timbul gelisah khawatir…

Iki mengko kepiye…. sopo sing nulung (ini nanti bagaimana.. siapa yang
menolong), bisa sembuh tidak, yang nokoke Pien Zehuang sopo iki
engko (yang beliin Pien Zehuang siapa ini nanti).

Pertanyaan saya…
Ibu Bapak senang apa susah?
Susah…. (gak usah mikir-mikir itu jawabannya), siapa yang senang
anaknya di ICU….
Pikiran itu Ibu Bapak.. Sangat cepat dan sangat kuat sangat
mempengaruhi perasaan…. (tolong ini diingat-ingat, nanti ada contoh
lagi).
Kalo perasaan Ibu Bapak susah, karena pikiran gelisah, membayangkan
anaknya, was-was.. khawatir..

Pikiran dengan cepat mempengaruhi perasaan, perasaannya susah.
Kalo Ibu susah seperti itu, apakah makan rasanya enak?
Tidak enak… Kesukaannya apa toh dia? Soto.. cepat-cepatlah beliin
soto.. Sotonya datang, dilihat saja..

Lain persoalan kalo anaknya yang ada di Jepang telepon, setelah kuliah
menghabiskan uang bertahun-tahun..
Mah… hari ini aku lulus. Tenan iki mah, gak ngapusi (benar ini mah gak
bohong).

Nanti hasilnya saya faks….
Lalu… Ibu Bapak.. Aduh anakku lulus… (Pikirannya bereaksi anaknya
lulus, sukses, kewajiban sebagai orang tua satu langkah selesai).
Pikiran mempengaruhi perasaan…
Perasaan Ibu Bapak bagaimana? Senang apa tidak senang anaknya
lulus?

Senang… cepat sekali itu, Pikiran mempengaruhi perasaan itu cepat
sekali.

Sangat cepat dan sangat kuat….
Ini bukan hanya ajaran Buddha Ibu Bapak dan saudara.. Ibu Bapak
cocokkan sendiri pengalaman sendiri.
Berpuluh-puluh tahun… betul tidak?
Pikiran sangat berpengaruh terhadap perasaan, perasaan sangat
berpengaruh terhadap jasmani.
Oh… Bhante, kalo begitu ya,Bhante.. Kalo pikiran ini bisa di-
KENDALIKAN, TEGUH, KUAT. Aduh,Bhante, bagus sekali ya….?
Memang…

Kalo pikiran kita tidak labil, tidak mudah terombang-ambing oleh berita
apapun, cerita apapun… Pikiran saya bisa kuat, teguh, tenang, kan
bagus kan,Bhante???
Bagus… sangat bagus…
Perasaan tidak mudah terpengaruh.
Kalo perasaan tidak terpengaruh… jasmani tidak terpengaruh…
Tapi bagaimana,Bhante? Meneguhkan pikiran… Menenangkan pikiran
ini bagaimana?
Sulit Saudara…

Pikiran itu LICIN… LIHAY… HALUS… TIDAK BISA DIRABA.. TIDAK
BISA DIDETEKSI.. BERGERAK SEENAK-ENAKNYA SENDIRI..
Lalu bagaimana, Bhante… Bagaimana membuat pikiran ini Teguh…
Kuat…

Sebab kalo pikiran tidak teguh tidak kuat… Aduh... terombang-ambing.
Perasaan kita terombang-ambing, susah-senang, sedih-gembira,
kecewa, lalu sedih lagi. Dan itu merusak jasmani kita, mempengaruhi
jasmani kita.

Jadi pikiran itu harus dibuat kuat, teguh, tenang.. caranya bagaimana,
Bhante?

Ibu Bapak dan Saudara caranya….
DIBALIK………….
Karena PIKIRAN MEMPENGARUHI PERASAAN DAN PERASAAN
MEMPENGARUHI JASMANI, maka sekarang jasmaninya ditoto
(ditata atau dikondisikan).Karena kalo jasmaninya ditoto
(ditata/dikondisikan), perasaan juga ikut noto (tertata/terkondisi), dan
perasaan itu sudah noto (sudah tertata/terkondisi) maka pikiran menjadi
tenang.

Bisa dipahami Ibu Bapak?

Bagian 3: Cara Menata Jasmani

Nah sekarang Chapter ketiga, Noto (menata atau mengkondisikan)
jasmani bagaimana, Bhante?

Apa kalo rambut sudah putih terus disemir, kalo hidung bengkok terus
di… katanya sekarang ada yang ditarik-tarik (operasi plastik) saya tidak
tahu. Bagaimana apa jalannya juga harus pelan-pelan seperti macan
kelaparan?

Tidak…..
Noto (menata/mengkondisikan) menurut pandangan Dhamma adalah
“MEDITASI”. Loh, Bhante, koq meditasi ada hubungannya dengan
jasmani?Iya, karena yang paling gampang itu meditasi yang
dihubungkan dengan jasmani. Tidak dengan perasaan dulu atau pikiran.
Caranya bagaimana, Bhante? Memperhatikan jasmaninya sendiri.
Gimana, Bhante? Apa dingiling-ngilingi terus? (Apa dilihat-lihat terus?)
(Bhante Pannavaro sambil mempraktekkan melihat-lihat tangannya
sendiri).

Tidak…

Yang diperhatikan nafasnya sendiri.
Masuk…. Keluar… Masuk… Keluar…, duduk dengan tenang.

Tidak usah duduk sila…. duduk di kursi juga boleh. (Tangan rileks tidak
menyandar).

Masuk… Keluar… Masuk… Keluar…

Hanya begitu, Bhante?

Hanya begitu Saudara….

Ada doa-doa? Tidak ada.

Ada lilin dupa? Tidak ada.

Ada patung Buddha? Tidak perlu.

Baca Paritta? Tidak perlu.

Jadi hanya begitu,Bhante?

Ya.. Hanya begitu Ibu Bapak Saudara.

Menenangkan jasmani, membuat kondisi jasmani kita tenang. Kalau
jasmaninya dikondisikan begitu, jasmani akan mengkondisikan
perasaan. Perasaannya tidak mulak-mulak (tidak terombang-ambing /
berguncang-guncang). Kalau perasaannya tenang, maka pikirannyapun
menjadi tenang.

Sehari berapa kali, Bhante?

Satu kali gak usah dua kali, lebih bagus.

Optimal bagi yang berkeluarga 1/2 jam lebih boleh…

Mulai dari 10 menit dulu… 15 menit… 20 menit dan seterusnya.
Gak sempat, Bhante?

Hah, gak sempat? Makan sempat.. ke wc sempat.. tidur sempat.. mati
juga nanti sempat.

Meditasi 1/2 jam sehari tidak sempat? (Bhante Pannavaro sambil
menggeleng-gelengkan kepala).

Sangat berharga…..
Gak usah rapal, gak usah mantra, gak usah doa, gak usah nyebut
Buddha atau yang lain, tidak usah bersila di kursi boleh, tidak usah ada
ubo rampe (persembahan) dupa lilin. TIDAK ADA ONGKOS
SAUDARA….. Murah sekali!

Kalo saudara mau beramal berdana, harus punya modal…..
Saudara mau berdana apa?

Saya mau menyumbang makanan.
Kalau saudara gak punya makanan yang mau diberikan apa? Saudara
harus punya makanan dulu.

Anda mau nyumbang obat. Anda harus punya obat dulu, baru bisa
memberikan obat.

Aku mau berdana tenaga saja. Ya Anda harus punya tenaga, baru bisa
membantu tenaga.

Kalau anda sakit dan berbaring di rumah sakit bagaimana mau
menyumbang tenaga.

Aku ingin menyumbang berdana nasehat. Anda harus punya
pengetahuan baru bisa memberi nasehat.
Kalau meditasi?

ANDA TIDAK PERLU PUNYA APA-APA…..!
Jasmani akan sangat mempengaruhi perasaan.
Perasaan-perasaan akan menjadi tenang… tenang…
Yang semula senang banget.. yang semula sedih banget…
Kalo sekarang perhatian kita memperhatikan nafas…
Perasaan itu meskipun untuk sementara dia akan turun.
Apa betul, Bhante, jasmani itu sangat mempengaruhi perasaan?

Sangat betul Saudara…..
Kalau Saudara suatu ketika merasa sesak… Aduh sesak aku... (karena
sedih ataupun marah), susah… aku… karena macam-macam masalah.
Tidak ada jalan keluar, belum bisa diselesaikan. Untuk meringankan
sementara sesaknya itu bagaimana Saudara?
UNJAL AMBEKAN (TARIK NAPAS)
Rileks….

Meskipun hanya sebentar…
Itu suatu bukti kalo fisik ini ditenangkan, emosi menjadi rileks. Kalau
perasaan terkondisi, maka pikiran akan menjadi tenang. Nah, sekarang
ikuti penjelasan yang lain, tetapi tetap ada hubungannya dengan
uraiannya ini.

Bagian 4: Meditasi

Tadi Bhante mengatakan kalau pikiran mendapatkan reaksi, anaknya
sakit, anaknya masuk ICU, Suaminya tidak pulang atau anaknya lulus
ujian, atau mendapatkan keuntungan yang besar.
Reaksi pikiran cepat sekali mempengaruhi perasaan.
Cepat sekali… Kuat sekali…

Perasaannya menjadi senang atau tidak senang, suka atau sedih.
Benar…
Tetapi sebaliknya. Perasaan juga mempengaruhi pikiran. Kalau
perasaannya tenang. Pikirannya tenang.

Kalau perasaannya berkobar-kobar. Pikirannya juga berkobar-kobar.
Saya ingin memberikan contoh-contoh…

JUSTRU PENGARUH PERASAAN ITU KUAT SEKALI TERHADAP
PIKIRAN!
Apa saja gerak-gerik kita sehari-hari, yang kecil-kecil sekalipun. Apa
yang mendorong?
YANG MENDORONG PERASAAN….

Sekarang sudah jam delapan seperempat, saya bicara satu jam lebih.
Dan selama satu jam seperempat kira-kira… atau satu jam lebih.Saya
duduk tidak menyandar….
Apa yang dirasakan,Bhante?
Pegal….
Bhante senang apa tidak senang?
Tidak senang…
Perasaan tidak senang ini memerintahkan pada pikiran,

Nyendero-nyendero ( menyandarlah-menyandarlah ). Nanti kalo
waktunya tanya jawab menyandarlah…..
Waktu saya menyandar….
Apa yang timbul?
Enak… ( suka )
Enak ( suka ) lalu memerintahkan pada pikiran….
Menyandarlah terus….

Siapa yang memerintahkan pikiran?
PERASAAN………..
Kalo umat Buddha yang sudah lama, mengerti manusia itu kan 
Khanda (PANCA KHANDHA) toh…

1. Yang kasar namanya JASMANI

2. PERASAAN ( VEDANA ).

Menurut pengertian Dhamma perasaan ini bisanya senang – tidak
senang. Rasa asin, rasa asam itu pikiran dalam agama Buddha. Rasa
malu, rasa sedih itu pikiran…

Perasaan dalam pengertian psikologis buddhist hanya SUKA atau
TIDAK SUKA ( Senang atau Tidak Senang ), di tambah NETRAL ( ya
netral boleh diabaikan – Suka tidak… tidak suka juga tidak ).

3. INGATAN (SANNA/SANYA)

4.PIKIRAN ( SANKARA ).

Yang punya rencana, cita-cita, segala macam ingat yang lalu, mau
begini mau begitu. Katanya orang pikiran ini tidak terbatas, dari jaman
primitif sampai sekarang lalu kemudian
berkembang lagi.. batasnya tidak tahu pikiran ini.. Hebat sekali…

5. KESADARAN

JUSTRU YANG BERBAHAYA BUKAN SANKARA (PIKIRAN). YANG
BERBAHAYA VEDANA (PERASAAN).
Karena perasaan itu yang menjadi provokator… Dia memprovokasi
pikiran kita!

Apa saja Ibu Bapak boleh saja mencocokkan sendiri.
Saya lihat orang itu tadi duduknya sangat tenang. Setelah agak lama
satu jam lebih, koq dia mulai goyang-goyang (gelisah).
Kenapa?

Pikirannya menyuruh bergoyang-goyang…
Mengapa pikirannya menyuruh bergoyang-goyang?
Karena perasaannya kalo duduk tegap terus rasanya tegang dan TIDAK
SUKA, koq, Bhante ceramah belum berhenti-berhenti…..
Lalu perasaannya membujuk pikiran

EH PIKIRAN…. ITULOH… DUDUKNYA AGAK GOYANG-GOYANG,
BIAR GAK SAKIT… BIAR ENAK…

Itu, perasaan, yang menjadi biang keladinya. Dia yang memprovokasi,
dia yang menghasut segala macam.

Kalau senang, dia menghasut pikiran…. lagi… lagi… lagi…
Kalau tidak senang, dia menghasut pada pikiran…. singkirkan…
singkirkan… singkirkan…

Dia jalan lihat di rumah tetangganya, ada mangga bagus-bagus jatuh.
Melihat itu, perasaan langsung bereaksi. Lihat mangga.
SENANG…

Lalu perasaan memerintahkan pikiran…. Ambil…. Ambil… Ambil…

Pikiran: Tapi kan kepunyaan orang, apa gak mencuri?
Kalau gak disimpan pemiliknya kamu kan tidak mencuri, kan di situ
tergeletak. Ambilah, tidak apa-apa.

Pikiran begitu ramai, berdebat-debat terus. Lalu, ambil.
Tapi ambil, dipukulin orang satu kampung, karena loncat pagar.
Dipukulin enak atau tidak enak? ( Suka atau tidak suka? )
Tidak enak ( Tidak Suka ).
Suka atau Tidak Suka?
Tidak suka… wah.. sakit semua…

Suatu hari dia lihat mangga yang jatuh lagi… lebih banyak.
Sekarang perasaannya lain….
Sakit loh nanti… sakit loh nanti… dipukulin.
Ingatan akan yang sakit dan perasaan tidak suka karena di pukulin itu
memerintahkan pikiran:
Jangan ambil… Jangan ambil… Jangan ambil…
Mungkin pikiran masih membantah, tapi kemarin kan banyak orang.
Sekarang ‘kan tidak ada orang…

Ya, nanti kalau kamu sudah meloncat, trus orangnya datang nanti
kamu mau lari kemana?
Ya, nanti saya bilang. Ini nanti saya mau beresin supaya gak
berantakan taruh di pojok…
Oh… Pikiran ini LIHAY sekali…..
Tetapi, pemicu / penyulut api pertamanya adalah…
PERASAAN
Tapi bagaimana, Bhante, supaya perasaan tidak menjadi penghasut?

CARANYA:

JASMANI HARUS DIKONDISIKAN,
KALAU JASMANI DIKONDISIKAN,
MAKA PERASAAN AKAN TERKONDISI TENANG.

No comments:

Post a Comment